Puncak Karier sang Pangeran

SM/kapanlagi
SM/kapanlagi

Apakah perhatian Anda juga tersedot pada euforia Didi Kempot dan lagu-lagunya belakangan ini? Atau, janganjangan Anda malah penggemar berat yang tergabung dalam Sad Boys, Sad Girls, Sobat Ambyar, atau komunitas patah hati yang lain.

Begitulah memang Didi Kempot - fenomena menarik di jagat seni Indonesia saat ini. Ya, siapa meragukan ketenaran Didi Kempot yang memuncak sekarang ini? Bahkan kini dia ”menguasai” dua dunia, jagat nyata dan jagat maya.

Ketika di alam nyata sosoknya ada di berbagai panggung musik, di alam maya kabarnya akan segera ramai di Facebook, Instragram, Twitter. Lihatlah ketika anak-anak muda di seantero Nusantara menempatkan Didi Kempot sebagai ”junjungan”, setara godfather atau lord. Menarik, penghormatan itu mereka buktikan dengan antusiasme yang terasa nggetih.

Maka, jangan heran jika lagu-lagu patah hati sang idola kerap mereka sambut dengan cucuran air mata. Namun, tunggu dulu! Didi Kempot bukan baru terkenal sekarang. Atau, dia tidak sedang lahir kembali. Sekian puluh tahun lalu, penyanyi tembang Jawa ini sudah dikenal luas. Bahkan dia sudah mengibarkan bendera tinggi-tinggi sampai di Suriname dan Belanda.

Dia juga tidak sedang lahir kembali karena kariernya terus terjaga, meski tidak memuncak seperti sekarang. Didi Prasetyo begitulah nama aslinya. Dia lahir di Solo, 31 Desember 1966.

Dia lahir dari keluarga seniman. Sang ayah Ranto Edi Gudel adalah pelawak kondang dan sang kakak Mamiek Podang salah seorang pelawak Srimulat. Mengawali karier sejak 1987-1988, Didi Kempot sudah 30-an tahun berkiprah di jagat musik. Dia sudah menciptakan 700-an lagu, yang sebagian besar berlirik sakit hati, lara ati.

Lingkungan keluarga membentuk Didi Kempot sebagai seniman yang lekat dengan falsafah Jawa. Selalu neda nrima dan saktitahe membuat dia tidak menjadi seniman yang kaku, apalagi oportunis. Dia bisa saja dibayar sangat mahal di Suriname, tetapi juga bersedia tidak dibayar ketika ditanggap orang yang tidak mampu. Maka, dengarlah apa yang dia katakan ketika diprediksi bakal panen tanggapan belakangan ini.

”Nek pancen iki rejekiku, ya mugamuga dadi rejeki sing barokah,” katanya. Didi Kempot memang sudah malangmelintang di berbagai panggung musik. Dia bahkan mungkin satu-satunya penyanyi Indonesia yang memiliki penggemar fanatik di luar negeri.

Penggemar itulah yang membuat penyanyi ini harus sering pergi ke Suriname. Sementara di Tanah Air, dia juga tak pilih-pilih panggung. Dia bisa saja manggung di hotel mewah, tetapi kali lain juga manggung dalam hajatan pengantin dan lain-lain. Rasanya tak pantas menyebut Didi Kempot baru menikmati ketenaran sekarang, padahal karier sudah sedemikian luar biasa sejak dulu.

Juga menjadi tak pantas juga mengatakan dia sedang lahir kembali, karena sesungguhnya dia bisa menjaga esksitensi dengan baik. Bahwa kemudian penggemar belum begitu banyak menjangkau kalangan anak muda, itulah yang benar. Demikian memang. Pencapaian Didi Kempot sekarang adalah buah dari ikhtiar memasuki wilayah baru.

Anggaplah bila sebelumnya dia lebih sering di wilayah tradisi, sekarang sedang menemukan jalan memasuki wilayah pop. Dan, itulah kerajaan barunya dalam kapasitas sebagai lord. Atau, mungkin lebih tepat: menjadi lord di negeri kaum patah hati.

Wis Wayahe

Wis wayahe, kata Blontank Poer, tentang pencapaian Didi Kempot sekarang. Sebab, ujar dia, penyanyi itu sudah lama berjuang dan berkiprah. Memiliki kapasitas dan kualitas yang sangat memadai. Ibaratnya, Didi Kempot sudah lama berjalan jauh penuh lara lapa. Maka menjadi sangat pantas jika sekarang dia menuai buah lara lapa itu; memiliki ”kerajaan” baru sebagai Lord Didi.

”Jadi pancen wis wayahe untuk dia,” kata Blontank, pemerhati yang kini sering diminta menjadi pendamping Didi Kempot di berbagai acara. Namun bagaimana anak-anak milenial tiba-tiba begitu mengidolakan Didi Kempot yang lekat dengan lagu Jawa? Mungkin antara lain faktor dari dalam karena lagu-lagunya unik.

Lagu-lagu Bapak Patah Hati ini memang khas. Itulah lagu (bahasa) Jawa yang sederhana dan bercerita tentang patah hati. Ketiga hal itu kemudian menjadi semacam ciri khas lagu-lagu Didi Kempot. Lirik patah hati juga menjadi daya tarik lain.

Bahwa cerita patah hati sangat mudah dekat dengan telinga anak muda sangat mungkin karena merupakan pengalaman pribadi. Padahal, untuk menghadapi patah hati butuh teman. Maka ketika lagu-lagu nggrantes Didi Kempot bisa mengumpulkan orang banyak, di sanalah kemenangan kaum patah hati ketika mereka berjoget bersama. Ya, sing penting njoged.

Bagaimana dengan faktor luar? Jawabannya adalah teknologi internet. Karena teknologi itulah, banyak yang menyatakan kesuksesan Didi Kempot sekarang bermula dari viral kali pertama tembangnya saat konser di Bale Kambang Solo. Kemudian dilanjut oleh viral acara Ngobam di Resto Goela Klapa Solo bersama dengan youtuber Ghofar Hilman.

Namun di luar itu, sesungguhnya ada yang terlewatkan. Karena masih ada anakanak muda dari Rumah Blogger Indonesia (RBI) Solo. Video viral dari konser Balekambang itu berasal dari salah seorang warga RBI. Bahkan setelah itu muncul acara Musyawarah Nasional (Munas) Lara Ati. Munas yang sungguh unik dan menarik serta menjawab penasaran Lord Didi tentang penonton akademis saat konser di Balekambang.

Petuah Bijak

Ada hubungan menarik antara Didi Kempot sebaga idola dan anak-anak muda milenial yang jadi penggemar. Itulah ketika sang idola membangun dialog melalui dunia maya.

Dialog itu disisipi pesan moral dan petuah segar dan ringan. ”Kehadiran anak-anak muda ini tentu memberikan dukungan semangat bagi saya. Sungguh, saya tidak mengira ada begitu banyak anak muda senang lagu saya,” kata Didi Kempot. Ketika sang idola mendapatkan semangat dari dukungan penggemar, tentu hubungan sebaliknya menjadi wajar diharapkan.

Demi membalas apresiasi penggemar itu, sang idola membalas dengan banyak cara. Misalnya, dia selalu tak lupa menyisipkan pesan moral dan petuah. Menarik, penggemar menjadikan pesan itu semacam petuah indah dari tuan raja.

Lihatlah rangkaian kata-kata lucu dan segar setiap kali Didi Kempot memberikan petuah. Misalnya, ketika muncul petuah tidak boleh patah semangat, meski sedang patah hati. (Wisnu Kisawa-28)


Berita Terkait
Loading...
Komentar