CORNER KICK

Menjaga Fenomena Bagus Kahfi

Amir Machmud NS

AMIRUDDIN Bagus Kahfi Al- Fikri mudah dibedakan dari para pemain seangkatannya, termasuk dengan pemain lintas generasi di tim nasional Indonesia. Paling gampang, pembeda itu tetulah gaya rambutnya yang mengingatkan pada penampilan legenda Kolombia Carlos Valderrama, bek Brasil David Luiz, atau bintang timnas Uni Emirat Arab Omar Abdulrahman.

Lebih dari sekadar urusan rambut, Bagus Kahfi punya faktor pembeda lain. Anak Magelang berusia 17 itu membukukan sejumlah catatan. Dia produktif sebagai striker yang mengantar timnas U-15 sebagai juara Piala AFF 2018, pencetak gol tersubur di tim U-18, dan kini saudara kembar Bagas Kaffa itu dipanggil untuk berlatih bersama tim Pra-Piala Dunia. Kalau bukan karena ‘’punya apa-apa’’, bukankah tak semudah itu pelatih Simon McMenemy memberinya kesempatan menambah jam terbang bersama para pemain senior?

Simon menilai Bagus sebagai aset penyerang masa depan tim Garuda, itu kesimpulan yang saya yakini benar. Pelatih asal Skotlandia itu bersikap bijak dengan tidak memanggil langsung sebagai bagian dari proses seleksi pemain, tetapi memberi kesempatan berlatih bersama. Artinya, potensi Bagus diakui, tetapi dia tidak disertakan dalam rangkaian seleksi untuk kelompok usia yang masih di atasnya.

Coach Simon menyebut contoh tentang proses promosi yang menimbulkan ‘’risiko’’ ketika Saddil Ramdani, dalam usia yang tak jauh berbeda dari Bagus Kahfi, lolos sebagai bagian dari tim senior 2018. Potensi pemain muda Persela Lamongan itu diakui, namun di luar lapangan Saddil menjadi ‘’korban’’ bias popularitas, dan terbukti belum mampu mengelola. Kini, sayap dengan keistimewaan tembakan jarak jauh melengkung itu bermain untuk Pahang FAdi Liga Malaysia.

Kalau Simon McMenemy mau, timnas kelompok usia muda kita menyediakan cukup stok. Selain Bagus ada Saddil, Egy Maulana Vikri, Witan Sulaiman, Beckham Putra Nugraha, dan Firza Andika. Tetapi dia paham, persaingan di timnas senior untuk Pra-Piala Dunia membutuhkan kematangan, dan kompetisi liga punya banyak materi yang sesuai dengan kebutuhan skema taktiknya.

Dia termasuk pelatih penganut paham pembinaan yang mendahulukan kematangan dari aspek pengalaman, dan menjaga potensipotensi muda untuk bergerak sesuai tahapan alamiah.

* * *

DI panggung sepak bola dunia tercatat sejumlah kisah pemain muda yang mendapat kesempatan langsung bersaing di tim senior. Pele adalah fenomena terbesar. Pada usia 17 dia menjadi bintang utama tim juara dunia Brazil 1958.

Sebelumnya ada Manuel Rosas (18), yang memperkuat Meksiko di Piala Dunia 1930. Sama dengan Carvalho Leite (Brasil, 18). Berikutnya Norman Whiteside (17), pemain termuda Irlandia Utara di Spanyol 1982, dan Enzo Scifo (18) dalam tim Belgia di Euro 1984.

Rigobert Song memperkuat Kamerun di Piala Dunia 1994 saat belum genap 18 tahun. Salomon Olembe, yunior Song lebih muda lagi, 17 tahun 6 bulan saat memperkuat Singa-Singa Perkasa pada 1998, sama dengan catatan Samuel Etoío (17) pada 1998.

Pemain Nigeria Bartholomew Ogbeche belum 18 tahun saat bermain di Piala Dunia 2002. Dalam tim yang sama ada Femi Opabunmi yang lebih muda, 17 tahun.

Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo — yang dalam 10 tahun terakhir bersaing sebagai dua bintang terbaik dunia — tampil dalam usia belia di Piala Dunia 2006, termasuk Theo Walcott yang masuk tim Inggris dalam usia 16. Ronaldo, bersama Wayne Rooney juga menjadi rising star di Euro 2004. Sedangkan Christian Eriksen menjadi bintang termuda Denmark, 18 tahun, di Afrika Selatan 2010.

Manajer timnas Inggris Gareth South yang dikenal suka ìdaundaun mudaî, kini mulai mengetengahkan Jadon Sancho dan Phil Foden, namun tetap saja dia mengandalkan kekuatan Tim Tiga Singa pada para bintang yang sudah lebih matang.

Bukalah sejarah 1978 ketika Luis Cesar Menotti menolak desakan opini media untuk membawa Diego Maradona yang masih berusia 16 ke Piala Dunia. Waktu itu Maradona sudah memperlihatkan sentuhansentuhan magisnya, namun Menotti memilih mematangkan El Pibe de Oro terlebih dahulu dalam Piala Dunia Yunior 1979, pada usia 17.

Tiga tahun kemudian, di Spanyol 1982, Maradona baru masuk tim senior. Dan, inilah yang terjadi: dia tak sepenuhnya bisa unjuk talenta. Saat menghadapi Italia, dia dijaga habis oleh cara bertahan Claudio Gentile yang ìmenghancurkan seni sepak bolaî. Tekanan turnamen malah membuat Maradona menerima kartu merah lantaran memukul pemain Brasil, Joao Batista.

* * *

KESEMPATAN Bagus Kahfi menempa diri dan belajar dari pengalaman para senior tak boleh disiasiakan. Dia harus sadar hadir bukan untuk bertebut tempat dengan Ferdinand Sinaga, Irfan Bachdim, Irfan Jaya, dan trio naturalisasi Greg Nwokolo, Beto Goncalves, Osas Saha.

Apabila dia konsisten membina kemampuan, akan ada saat Bagus memperoleh tempat sebagai penerus para penyerang timnas dengan kisah kepahlawanan, pelegendaan, dan rekor masingmasing. Dari Ramang, Soetjipto ìGarengî Suntoro, Risdianto, Hadi Ismanto, Djoko Malis Mustafa, Bambang Nurdiansyah, Budi Wahyono, Widodo Cahyono Putro, Rochy Puttiray, Budi ìUlar Pitonî Sudarsono, Kurniawan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas, Purwanto, Boaz Solossa, Cristian Gonzales, Irfan Bachdim, dan Beto Goncalves.

Selain Bagus Kahfi kita masih punya banyak talenta penyerang. Jalan yang dipilih oleh coach Simon untuk menumbuhkan kepercayaan diri kepada Bagus juga sekaligus menjadi cara memacu para pemain muda konsisten membajakan diri.

Dalam sepak bola, tidak ada prestasi yang instan. Referensi ilmiah olahraga menegaskan tentang pembinaan melalui medan berkompetisi yang bertahap, sistematis, dan terukur. Dua-tiga tahun lagi, boleh jadi kita akan mendapatkan seorang Bagus Kahfi yang makin berkembang, juga rekan-rekannya seperti Saddil, Witan, dan Egy yang dimatangkan oleh atmosfer liga yang kompetitif dan konsisten. (29)


Baca Juga
Loading...
Komentar