panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
28 Juni 2014 | 05:20 wib
Pemain-Pemain Kontroversial di Piala Dunia
Dari Gol Tangan Tuhan Maradona Hingga Gigitan Suarez
image

Ajang Piala Dunia sering diwarnai aksi kontroversi para pemain bintang. Ada hal unik, “gila” hingga menyebalkan. Kasus Luis Suarez menggigit bahu bek Italia, Giorgio Chiellini menjadi yang terpopuler di Piala Dunia tahun ini. Meski lolos hukuman wasit, penyerang Uruguay itu akhirnya mendapat sanksi juga dari FIFA.  Selain Suarez, siapa saja bintang idola yang membuat ulah di World Cup edisi sebelumnya?

PEMAIN hebat belum tentu berjiwa besar. Setidaknya itu sering terlihat di ajang Piala Dunia. Pemain yang semestinya menjadi idola, justru memperlihatkan ulah kontroversial. Luis Suarez menjadi perbincangan hangat di Piala Dunia Brasil. Ia terekam menggigit bahu Chiellini hingga membekas saat Uruguay bersua Italia di laga terakhir Grup D Piala Dunia, 24 Juni lalu.

Selain Suarez – Chiellini, kontroversi pernah terjadi pada Piala Dunia sebelumnya, seperti Zinedine Zidane menanduk dada Marco Materazzi (Jerman, 2006), Rivaldo berakting kesakitan setelah terkena bola tendangan Hakan Unsal (Korsel-Jepang, 2002) dan aksi diving Diego Simeone yang menyebabkan David Beckham diganjar kartu merah (Prancis, 1998).

Selain itu, masih ada perseteruan Rudi Voeller dan Frank Rijkaard akibat insiden ludah. Rijkaard diusir keluar lapangan usai meludahi Voeller di Piala Dunia 1990 di Italia. Yang tak kalah fenomenal adalah kontroversi gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona ke gawang Inggris edisi 1986 (Meksiko).

Luis Suarez menjadi satu-satunya pemain yang paling disorot pada World Cup kali ini. Setelah menjadi pahlawan bagi timnas Uruguay dengan dua golnya ke gawang Inggris, ia melakukan ulah tak pantas, yakni menggigit lawan. Bahkan, perilaku serupa pernah dilakukan kala membela dua klub berbeda. Saat masih berkostum Ajax Amsterdam, pemain 27 tahun tersebut menggigit bahu pilar PSV Eindhoven, Otman Bakkal.

Tiga tahun kemudian, aksi mirip juga diulang. Kali ini, bek Chelsea Branislav Ivanovic menjadi korban penyerang Liverpool itu. Pada akhirnya, Suarez dihukum berupa larangan bermain bola selama sepuluh pertandingan.

Kenyataannya, perilaku tak terpuji tersebut belum juga hilang. Piala Dunia 2014 menjadi panggung Suarez untuk menjadi “Serigala”. Ia menancapkan giginya bahu Chiellini untuk jadi tumbal. Saking ganasnya gigi Suarez, banyak penggemar, antara lain di Indonesia, geram dengan tingkah laku Suarez.

Bahkan, di media sosial, top skorer Liga Primer Inggris 2013/2014 ini diibaratkan serigala. Judul Sinetron di salah satu televisi swasta “Ganteng-ganteng Serigala”, oleh penggemarnya dipelesetkan jadi “Ganteng-ganteng Suarez”. Hal itu pertanda betapa kasus Suarez – Chiellini tersebut menjadi perbincangan hampir semua pecinta bola di Tanah Air.

Dia juga harus menanggung beban besar usai menggigit bek Italia itu. Suarez dipastikan tak bisa lagi membela Uruguay hingga Piala Dunia 2014 selesai. Keputusan FIFA menjatuhkan hukuman berat kepada El Pistolero. Dia dinyatakan melanggar dan membuat aksi tidak sportif terhadap pemain lain.

“Pemain Luis Suarez akan dihukum larangan bertanding di sembilan pertandingan resmi. Pertandingan pertama dari larangan ini akan diterapkan pada laga Piala Dunia FIFA yang akan datang antara Kolombia dan Uruguay pada 28 Juni 2014. Sisa hukuman akan diterapkan pada laga Uruguay di Piala Dunia FIFA berikutnya, selama tim tersebut lolos, dan/atau dalam pertandingan resmi selanjutnya oleh tim yang mewakili,” demikian penggalan keputusan FIFA seperti tercantum dalam situs resmi FIFA.

Selain itu, ia juga dilarang berpartisipasi dalam segala kegiatan yang berhubungan dengan sepak bola selama empat bulan, dilarang memasuki stadion manapun selama periode larangan segala kegiatan yang berhubungan dengan sepak bola tersebut dan diwajibkan membayar denda sebesar Rp 1,4 miliar.

Tandukan Zidane

Ini berarti bukan hanya Uruguay yang kena getahnya. Liverpool pun ikut apes. The Reds tak bisa memainkan Suarez pada empat bulan pertama musim 2014/15. Total akan ada 13 laga yang terlewat yakni sembilan di liga, satu di Piala Liga dan tiga di Liga Champions. Sebelum dijatuhi sanksi, pemain bernomor punggung 9 itu seolah tak punya dosa. Ia berujar bahwa ulahnya adalah hal biasa, apalagi terjadi saat perebutan bola.

“Ini adalah kejadian yang terjadi di lapangan dan Anda seharusnya tak membesar-besarkannya. Ia (Chiellini-red) menabrakku dengan bahunya dan itu kenapa mataku menjadi seperti ini,” tuturnya dengan santai.

Kasus tandukan Zidane ke dada Materazzi juga tak kalah menarik saat laga final Piala Dunia 2006 antara Italia versus Prancis. Zidane memang bermain cemerlang dengan mencetal gol melalui titik penalti di awal pertandingan. Namun, ia terporvokasi oleh ungkapan-ungkapan Materazzi saat pertandingan berlangsung.

Tepatnya, menit ke-110, kedua pemain beda negara tersebut terlibat adu mulut. Zidane hilang kendali dan akhirnya menanduk Materazzi hingga tergeletak di tengah lapangan.Wasit Horacio Elizondo akhirnya mengangkat kartu merah untuk Zidane.Beberapa hari setelah insiden, Zidane memberikan keterangan kepada media dan meminta maaf kepada penggemarnya atas peristiwa tandukan itu.

Ia juga meminta agar tindakannya tidak ditiru. Namun, pemain legendaris Prancis itu tak menyesali tindakannya. Alasan Zidane, Materazzi telah menghina ibu dan saudara perempuannya, meski bek Italia tersebut membantahnya.

"Saya tidak menyebutkan apa-apa mengenai agama, politik, dan rasis. Saya tidak menghina ibunya. Saya telah kehilangan ibu sejak berusia 15 tahun dan masih emosional setiap kali membicarakannya," ujar Materazzi kala itu.

Akan tetapi, Zidane tetap berpegang pada pendiriannya bahwa Materazzi telah mengeluarkan kata-kata kasar tentang ibu dan saudara perempuannya. "Saya mendengarnya sekali, dan saya berusaha menyingkir. Tetapi kemudian saya mendengarnya dua kali, lalu tiga kali. Saya laki-laki. Beberapa ucapan lebih sulit didengar dibanding tindakan. Saya memilih dipukul di wajah daripada mendengar itu,” katanya.

Kontroversi Zidane – Materazzi menginspirasi seniman Prancis, Adel Abdessemed. Ia terkenang peristiwa yang membuat Zidane diusir dari lapangan akibat perilakunya itu. Adel mengabadikan insiden itu dalam sebuah patung perunggu yang kemudian dipajang di pelataran Musium Centre Pompidou, Paris.

Rivaldo, pemain Brasil juga membuat ulah yang penuh teka-teki. Kala menghadapi Turki di Piala Dunia 2002, penyerang jangkung itu melakukan akting yang memalukan. Saat akan mengeksekusi tendangan sudut, pemain yang pernah datang ke Indonesia tersebut, menjatuhkan diri usai terkena bola dari Hakan Unsal.

Ceritanya,  kala pertandingan segera berakhir, Hakan memberikan bola kepada Rivaldo dengan cara menendang ke arahnya yang sudah menunggu di sudut lapangan. Karena tendangannya, bola pun mengenai paha Rivaldo dan ia pun terjatuh. Namun anehnya, Rivaldo justru menggeliat kesakitan sambil menutupi wajahnya. Hakan Unsal pun di usir karena kartu kuning kedua, dan Rivaldo pun didenda FIFA karena aksi diving tersebut.

Beckham Vs Simeone

Edisi 1998, David Beckham dan Diego Simeone menjadi sorotan. Berkat diving pemain Argentina itu, Beckham diusir keluar lapangan. Saat itu pula, suami Victoria tersebut menjadi sasaran empuk media Inggris dan menjadi musuh para fans. Seandainya bermain dengan 11 pemain, Tiga Singa diyakini bisa menjungkalkan Argentina.

Namun, akibat kartu merah yang diterima Beckham, Inggris jadi terpukul. Kala itu, saat hendak berebut bola di tengah lapanga,n Diego Simeone menabrak David Beckham dari arah belakang. Beckham pun terjatuh dan wasit  meniup peluit tanda pelanggaran. Pengadil lapangan terlihat siap untuk mengganjar Simeone dengan kartu kuning.

Dalam posisi tengkurap di tanah, Beckham mengangkat kakinya untuk menjegal Simeone. Benturan keduanya sebenarnya minimal, namun Simeone terjatuh sambil menunjuk ke arah Beckham seakan meminta wasit mengganjarnya dengan hukuman kartu. Tekanan pada wasit makin kecang karena Juan Veron ikut memprovokasi dengan menujuk ke arah Beckham. Dalam posisi tertekan oleh provokasi pemain Argentina, wasit memberi kartu merah kepada David Beckham.

Simeone juga tak membantah telah melakukan aksi diving pada laga tersebut. Bahkan, ia menilai wasit telah masuk jebakannnya. "Sebut saja wasit tersebut masuk jebakan. Itu juga salah satu hal yang sulit dihindari olehnya karena aku memang terjatuh dan di banyak momen seperti itu ada banyak tekanan," ujarnya.

"Tentu saja, aku cerdas. Dengan membiarkan diriku jatuh, aku melihat wasit mengeluarkan kartu merah dalam waktu cepat. Kenyataannya, itu bukan serangan yang mengganggu, itu hanya sedikit tendangan kaki (dari Beckham) dari belakang dengan tidak ada kekuatan yang menyentuh kakiku,” imbuhnya.

Kontroversi juga terjadi pada Piala Dunia 1990. Pemain Jerman, Rudi Voeller menjadi korban Frank Rijkaard (Belanda). Rijkaard mengungkapkan kecewanya dengan cara meludahi Voeller. Memang, penampilan pemain Jerman tersebut cukup gemilang kala menghadapi De Orange. Jerman mengandalkan Rudi Voeller dan Juergen Klinsmann di lini depan.

Belanda menugaskan Rijkaard untuk mengadang pergerakan keduanya. Pergerakan Voeller yang lincah memaksa Rijkaard mengganjal dan menjatuhkannya. Pemain berambut keriting tersebut mendapat kartu kuning karena hal itu. Sambil berlari, Rijkaard meludahi belakang kepala Voeller. Hal itu membuat Voeller protes keras kepada wasit. Justru, wasit memberinya kartu kuning karena dianggap protes berlebihan.

Saat tendangan bebas, Voeller mengejar bola yang mengarah ke gawang. Hans van Breukelen lebih dulu menangkap bola sehingga Voeller melompat guna menghindari tabrakan.

Van Breukelen dan Rijkaard marah lalu mendekati Voeller karena menganggapnya melakukan diving. Rijkaard memprovokasi dengan menjewer Voeller. Voeller menepis tangan Rijkaard dengan keras dan keduanya adu mulut. Wasit justru mengeluarkan kartu merah dan mengusir Voeller.

Saat Voeller berjalan keluar lapangan, Rijkaard kembali meludahi belakang kepala Voeller. Kali ini wasit melihatnya dan mengganjar Rijkaard dengan kartu merah. Jerman memenangi laga itu 2-1 dan melaju sampai jadi juara dunia. Insiden itu juga terus dikenang sebagai bumbu permusuhan Jerman dan Belanda.

Empat tahun sebelumnya atau Piala Dunia 1986, Diego Maradona menjadi bintang sekaligus pahlawan bagi Argentina. Ia membuat kontroversi dengan menciptakan gol “Tangan Tuhan” ke gawang Inggris. Menerima umpan lambung, ia menyambut bola dengan lompat, lalu menanduknya dengan tangan hingga menjebol gawang tim Tiga Singa.

Teknologi saat itu memang belum secanggih sekarang, sehingga kurang terlihat dengan jelas. Wasit pun mengesahkan gol meski beberapa pemain Inggris memprotes masalah ini. Maradona akhirnya mengakui gol tangan tuhannya itu setelah 19 tahun lamanya.

(Arif M Iqbal/CN26)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 11:00 wib
Dibaca: 85869
image
05 September 2014 | 10:50 wib
Dibaca: 83193
image
05 September 2014 | 07:57 wib
Dibaca: 84507
image
05 September 2014 | 07:43 wib
Dibaca: 81378
image
05 September 2014 | 07:30 wib
Dibaca: 80947
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER