
MENJADI pelatih beban memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan menjadi pelatih utama. Hal ini dialami Hadi. Pria kelahiran Grobogan 11 maret 1979 itu tak hanya menjadi pelatih beban satu cabang olahraga saja, melainkan pernah lima cabang olahraga yang berlainan.
Peraih emas angkat berat dalam PON VXII/2008 Kaltim itu menjadi pelatih di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Angkat Besi, Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) Jateng. Dia juga merupakan pelatih fisik bagi tim Karate Jateng pada pada Pra PON 2011 lalu.
Tak hanya itu, sosok yang bertubuh kekar dengan tinggi 171 dan berat 103 kilogram itu merupakan pelatih beban tim Wushu Jateng dan tim basket SMA Karangturi Semarang. Kini Hadi tengah mendalami profesi sebagai pelatih beban tim basket dan sepak bola di SMA Terang Bangsa.
"Secara garis besar latihan beban yang diterapkan di semua cabang olahraga tak jauh berbeda. Hanya fokus dan peruntukan saja yang membedakannya. Pada prinsipnya, latihan beban merupakan salah satu penunjang meningkatkan kebugaran tubuh secara menyeluruh," papar Binpres PABBSI Jateng, dan Bidang Pertandingan PB PABBSI itu.
Pengalaman
Dia ingin mengubah paradigma yang salah dengan menganggap latihan beban itu tidak perlu bagi atlet. Latihan beban menjadi pro dan kontra di khalayak olahragawan. Menjadi ''momok'' yang ditakuti sehingga atlet enggan melakukannya. Padahal, menurutnya, hal itu tidak benar. Karena latihan beban akan menunjang fisik bila dilakukan dengan baik dan benar.
Terlepas dari itu, dia mendapatkan banyak pengalaman dengan melatih beberapa cabang orahraga. Suami RR Puji Retno Hartai itu menjadi tahu karakter masing-masing atlet yang berbeda dan unik. Berbagai macam euforia pun sudah pernah dirasakan.
Seperti saat mendampingi tim Karate Jateng di Kualifikasi PON di Batam, beberapa waktu lalu. Meski tidak merasakan secara langsung, ada rasa kepuasan tersendiri bila atlet yang dilatih bisa memenangi pertandingan. Hal itu tidak hanya dialami pelatih kepala, namun juga jajaran pelatih yang lain, ofisial dan para pendukung.
Tetes air mata kebahagiaan pun tak jarang membasahi pipi. "Bila juara, maka latihan yang telah dilakukan membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Untuk mewujudkan hal itu perlu adanya komunikasi dan kerjsama yang baik antara atlet denga pelatih," tandas Dosen Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKLO) FIK Unnes itu.
(Hendra Setiawan/CN26)