
Anggi Ervian Kurnia Adi (suaramerdeka.com/Nurul Muttaqin)
KEBERHASILAN seorang pemain tak bisa dilepaskan dari peran pelatih. Pelatih mampu membentuk mental dan karakter pemain di lapangan. Itulah yang dirasakan petenis muda asal Semarang Anggi Ervian Kurnia Adi, yang baru-baru ini lolos dalam seleksi nasional kelompok usia 14 tahun di Jakarta.
Menurut petenis kelahiran Semarang, 9 Agustus 1998, itu, ia sudah beberapa kali berganti pelatih. Bukan apa-apa, semua itu dilakukan untuk mencari kecocokan jadwal. Mulanya ia dilatih sang ayah, yang juga petenis di tim Kodam IV Diponegoro. Kemudian, di usia 10 tahun Anggi mulai ditangani pelatih dari luar. "Waktu itu dilatih Pak Bagio, Mas Andre, dan Mas Kurnia dari Ratu Ken Sport," kata siswa kelas VIII SMPN 13 Semarang itu.
Setelah itu pun ia terus berganti pelatih dan berganti lapangan tempat latihan. Yang terakhir, ia dilatih Roni, ayah petenis Jateng Riski Bagus. "Saya ucapkan terima kasih kepada semua pelatih dari awal terjun hingga sekarang. Karena tanpa arahan dari semua pelatih, saya tidak bisa seperti sekarang ini," katanya.
Anggi lolos seleksi nasional tersebut dengan prestasi yang membanggakan. Yakni meraih lima kali menang dan dua kali kalah. Hasil itu menempatkannya di urutan kedua di bawah unggulan pertama Bryan Husin, yang meraih jumlah menang dan kalah sama. Anggi hanya tertinggal di skor menang-kalah 89-62 (59 persen), sementara Bryan meraih skor menang-kalah 77-41 (65 persen).
"Bangga bisa masuk dalam timnas yunior. Dalam seleksi itu, pertandingan paling berat adalah saat melawan unggulan pertama Bryan Husin. Meski dia menjadi unggulan pertama saya bisa mengalahkan 7-5, 6-4," terangnya.
Dengan hasil ini, ia pun lolos ke World Junior Tennis Competition yang akan digelar di Sarawak dan Kuching, Malaysia, April-Mei mendatang. Sebelum itu, yakni pada 4 Maret mendatang, dia dikirim bertanding ke Filipina selama dua minggu. Namun yang masih menjadi beban adalah, tiket pesawat untuk ke Filipina menjadi tanggungan masing-masing pemain.
"Saya berharap bisa membawa nama baik Jateng dan Indonesia di kancah internasional. Bertanding melawan pemain luar negeri tentunya tekanannya lebih berat daripada melawan pemain dalam negeri," kata Anggi. Ke depan, Anggi akan terus fokus pada tenis dan belajar. Pemain yang mengidolakan Roger Federer ini, berharap bisa menjadi petenis yang selalu diandalkan Indonesia.
(Nurul Muttaqin/CN32)