
TERIAKAN dan nyanyian suporter merupakan pendongkrak semangat bagi atlet yang bertanding. Namun bisa juga menjadi tekanan cukup berat bagi atlet tamu yang berlaga. Hal itu dialami pesilat muda <B>Diaz Pramuditya<P> dalam kualifikasi PON di Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB), Januari lalu.
Dia mengaku, saat itu konsentrasi terbelah dalam menghadapi pesilat tuan rumah di semifinal kelas H. Suara ratusan suporter mendengung di setiap sudut ruangan, intruksi dari pelatih pun menjadi samar-sama terdengar. Darah menjadi mendidih dan banyak pukulan dan tendangan yang meleset dari sasaran.
"Saat itu adalah jumlah penonton terbanyak yang pernah saya saksikan. Berkali-kali saya mencoba fokus pada laga, hasilnya tidak mengecewakan. Meski penuh tekanan, saya berhasil mengalahkan pesilat tuan rumah 4-1 dan maju ke final sekaligus memastikan tiket PON XVIII/2012 Riau," papar pesilat kelahiran Semarang, 13 Juli 1987 itu.
Partai yang sengit dan ketat itu harus dibayar mahal. Dia mengalami cedera sehingga gagal berlaga di partai puncak. Rasa sakit yang tidak bisa ditahan membuatnya harus menyerah tanpa bertanding saat berjumpa dengan pesilat DI Yogyakarta, di partai final.
Dia pun harus puas dengan hanya meraih perak. Namun pesilat dengan tinggi 177 sentimeter dan berat 83 kilogram itu tetap mendapatkan tiket PON. Pasalnya PB Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) mengambil tiga besar untuk tampil di pesta olahraga multi event tahunan itu.
"Akhirnya kami bisa melewati perjalanan panjang dan melelahkan dengan hasil yang cukup baik. Meski gagal menjadi juara, kami telah memastikan tiket ke PON. Kami akan meningkatkan kemampuan agar tampil lebih baik di pesta olahraga multi event tersebut," papar Diaz.
Andalan Semarang
Pria yang juga anggota Gegana Sat Brimobda Jateng itu sebenarnya bukan orang baru di dunia persilatan. Dia menjadi andalan Kota Lumpia di beberapa kejuaraan pencak silat tingkat daerah maupun nasional. Di antaranya meraih perak di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) di Palembang, 2009 lalu.
Di tahun yang sama, dia meraih perak di Porprov Solo. Kemudian meraih perunggu di Pomnas 2011 Batam. Lalu emas, di Kejurprov Wonogiri di tahun yang sama. Kemudian, perak Kejurnas Antar-PPLM (Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Mahasiswa) di Solo. Terakhir adalah perak di Kualifikasi PON NTB.
"PON Riau tahun ini akan menjadi penampilan pertama saja. Meski demikian, saya tetap optimistis bisa meraih yang terbaik, yakni menyumbangkan emas bagi kontingen Jateng," tegas suami Gita Aulia itu.
(Hendra Setiawan/CN26)