
SEBAGAI seorang atlet olahraga keras, Subagja atlet tarung derajat Pelatda PON Jateng mengaku sudah sering mengalami cedera ringan di wajah atau bagian muka. Maka untuk itu, mahasiswa Universitas Wahid Hasim (Unwahas) Semarang ini tak pernah merasa minder ketika bertarung di atas matras.
"Bonyok-bonyok itu sudah biasa. Tapi Alhamdulillah, kalau cedera sampai parah belum. Apapun itu, inilah resiko menekuni olahraga keras. Saya tak merasa takut, karena ini sudah pilihan profesi saya," kata pemuda yang lahir di Cirebon, 22 Maret 1988 ini.
Atlet yang kini tinggal di Jalan Guntur nomer 3, Gajamungkur, Semarang ini mengaku, sejak kecil memang sudah bercita-cita menjadi seorang atlet tarung derajat. Maka resiko cedera ringan, sudah sangat dia maklumi. "Tapi dulu waktu pertama turun di kejuaraan memang ada rasa grogi. Lama kelamaan hal itu bisa saya antisipasi," kata dia.
Terkait alasan/pilihan menekuni olahraga keras ini, Subagja menegaskan bahwa dirinya memang suka tantangan. Dia pun mengaku akan serius menekuni cabang olahraga ini. Termasuk akan berusaha untuk ikut memasyarakatkan olahraga asli Indonesia ini.
"Dari pada berkelahi di jalanan, lebih saya salurkan ke olahraga. Selain bisa mendapat prestasi, ada banyak manfaat yang saya ambil dari menekuni olahraga," jelas penyumbang medali emas bagi Keluarga Tarung Derajat (Kodrat) Jateng di Pra-PON, Kaltim.
Ke Vietnam
Atas prestasinya di kualifikasi PON, atlet kelas 61-64 kg ini dipanggil PB Kodrat untuk dikirim ke Vietnam, 7 Februari. Dia bersama beberapa petarung Indonesia, akan melakukan pertandingan try out dengan atlet Republik Sosialis Vietnam.
"Ini suatu kehormatan bagi saya. Tapi satu ambisi saya adalah menyumbangkan medali emas bagi Jateng di PON XVIII/Riau 20113," tegas atlet yang memiliki cita-cita menjadi pelatih setelah tak aktif sebagai atlet.
Satu keinginannya lagi, yaitu ingin mendirikan Satuan Latihan (Satlat) di kampusnya, Unwahas Semarang. Maka usai fokus di Pelatda PON, Subagja bersama beberapa rekan lain berencana melakukan komunikasi dengan pihak rektorat, agar diizinkan membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tarung Derajat.
"Saat ini belum, karena masih kosentrasi ke PON. Saya berharap pihak rektorat mendukungnya," papar mahasiswa semester I Fakultas Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi ini.
(Lanang Wibisono/CN26)