
BANYAK permasalahan yang didapat bila tidak memiliki akta kelahiran. Hal itu pernah dialami Muhammad Rukiyanto, salah satu pemain andalan klub Kota Semarang Biprada Bank Jateng. Sekitar 2001 lalu, dia sempat berhenti bermain sepak bola karena akte kelahirannya dipermasalahkan oleh klub-klub.
Suatu ketika, dia terpaksa ditinggal saat timnya mengikuti sebuah turnamen. Jebolan sekolah sepak bola (SSB) Tugu Muda itu, kemudian putus asa lantaran klub-klub sepak bola menolaknya. Terjebak pergaulan bebas membuatnya semakin terpuruk keadaan.
Dia mengaku sangat beruntung lantaran bertemu dengan pemain asal Nigeria Muhammad Jimilaga, dan Martin. Keduanya memberikan dorongan motivasi agar pria yang akrab disapa Oky itu bangkit dan meneruskan karirnya sebagai sebagai pemain sepak bola yang dicita-citakan.
"Saya ingat, saat itu mereka memberikan saya sepasang sepatu dan meminta saya untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang merugikan diri sendiri. Pertemuan itu membuat saya bersemangat untuk kembali menitih karir di lapangan hijau," imbuh pria kelahiran Semarang 27 Maret 1984.
Pemain dengan tinggi 175 sentimeter dan berat 65 kilogram itu pun mencoba peruntungan dengan bermain di luar jawa. Selama dua musim mulai 2005 dia memperkuat tim Persebun Pangkalan Bun Kalimantan Tengah. Kemudian memperkuat salah satu tim lokal di Persepar Palangkaraya.
Juara Copa
Kangen kampung halaman, dia pulang ke Kota Lumpia sekitar 2008. Dia kemudian melanjutkan karirnya bersama PSAS Sambungharjo yang beberapa kali menjuarai Piala Wali Kota Semarang. Bakatnya dilirik pelatih Biprada Yuli Setyabudi dan diminta untuk bergabung.
Kepercayaan berhasil dijawabnya dengan menyumbangkan dua kali juara Copa PSSI Kota Semarang, 2009 dan 2011. Gelar juara copa pertama diraih setelah mengalahkan SSS 1-0 di partai final. Striker kukuh Pramuyudha menjadi pencetak gol semata wayang dalam laga tersebut. Dua tahun berselang, Biprada kembali menjuarai Copa dengan menundukkan POP Polrestabes Semarang 2-0.
Oky mencetak satu dari dua gol dalam laga tersebut, sedangkan satu lagi gol diciptakan Subiyanto, beberapa menit sebelum pertandingan usai. Bakatnya mengolah bola tersicum pelatih Semarang United Football Club Edy Paryono. Pemain yang terampil di segala posisi itu kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengikuti seleksi. Meski telah melewati beberapa tahapan, dia gagal di penjaringan terakhir.
Namun, hal itu tidak membuatnya berkecil hati. Dia akan terus bermain sepak bola sepanjang hidupnya. Keinginannya saat ini, adalah membantu Biprada memperbaiki peringkat di Kompetisi Antarklub PSSI Kota Semarang 2011-2012, dan mempertahankan Copa tahun ini.
(Hendra Setiawan/CN26)