
HANYA mampu mencetak gol melalui penalti saat menjamu Persikab Kabupaten Bandung, belum lama ini, menjadi catatan tersendiri bagi PSIS. Pembenahan harus segera dilakukan mengingat skema serangan yang dibangun ternyata belum membuahkan hasil maksimal.
Kebuntuan-kebuntuan di barisan penyerang secara tidak langsung berakibat kurang efektifnya pertahanan berlapis yang dibangun skuad arahan Edy Paryono. Beberapa kali lini tengah yang dihuni pemain berpengalaman seperti Han Ji-ho dan Donny Siregar kehilangan penguasaan bola.
Kubu Mahesa Jenar juga dibuat ketar-ketir dengan serangan-serangan lawan yang sampai ke jatung pertahanan. Di babak pertama, Striker ''Ndalem Bandung'' Ahmad Mardziana, Yusuf Maulana, Renaldi Zaenal memporak-poranda pertahanan terakhir PSIS.
Untung saja, meski terus ditekan sepanjang paruh pertama tidak berakibat fatal bagi tuan rumah. Achmad Sumardi, Azmi Aswibi, dan Ichwan Wicaksono masih tenang menahan gempuran. Ditambah aksi gemilang kiper PSIS I Komang Putra dengan menyelamatkan gawang PSIS.
"Anak-anak bermain kurang maksimal, terutama di babak pertama. Kami akan melakukan evaluasi terkait hasil pertandingan. Sebelum tandang melawan PPSMKN, akhir pekan nanti, kami akan melakukan pembenahan secara menyeluruh," kata pelatih PSIS Edy Paryono.
Banyak Tekanan
Sang arsitek tidak bisa sepenuhnya disalahkan terkait buruknya permainan Donny Siregar cs. Banyak tekanan tertuju pada Paryono dalam menentukan starting eleven. Karena itu, pelatih berusia 56 tahun itu, tidak bisa leluasa menurunkan komposisi terbaik sesuai keinginannya.
Bisa jadi tekanan itu datang dari pengampu kebijakan lebih besar di tim, yang juga dapat berpengaruh pada karirnya melatih di tim kebanggaan warga kota Semarang. Tak bisa dipungkiri, intervensi-intervensi senantiasa hadir terhadap sosok yang pada prinsipnya hanya sebagai ''pekerja'' di tim berlogo Tugumuda itu.
Namun demikian, pelatih asal Semarang itu tetap berani melakukan langkah yang berisiko pada karirnya, dengan menarik Simone Quintieri. Dibanderol dengan harga lebih dari setengah miliar rupiah, striker asal Italia itu tak mampu menjawab kepercayaan yang diberikan pelatih.
Keputusan berisiko Paryono dengan mengganti Quintieri dengan Engkus Kuswaha di pertengahan babak pertama nyatanya membuat serangan lebih hidup. Bahkan di babak kedua, tuan rumah lebih mendominasi jalannya pertandingan. Fokus pada pertahanan, tim tamu tak banyak melakukan determinasi seperti di babak pertama.
Meski melalui dua kali titik 12 pas, Vitor Borges mengantarkan PSIS meraih kemenangan untuk ketiga kalinya dalam musim ini. Mereka kini kembali ke puncak klasemen sementara menggeser PSCS Cilacap. Keberanian pelatih membuat PSIS kembali ke jalan yang benar menuju tiket promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
(Hendra Setiawan/CN26)