panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
05 Desember 2011 | 09:38 wib
Tiap Anak Miliki Hak Bermain dan Berekreasi
image

SETIAP anak memiliki hak untuk bermain dan berekreasi. Dia berhak pula untuk mendapatkan pendidikan dasar guna mengembangkan potensi serta mendapatkan standar hidup yang layak. Sementara itu untuk menjaga kesehatan mental, Dia berhak memperoleh kasih sayang, cinta dan pengertian.

Menurut Prof dr Sunartini Hapsara PhD SpA(K), untuk mewujudkan itu sejak dalam kandungan anak berhak mendapatkan suplai gizi dan perawatan kesehatan yang memadai dan memperoleh pendidikan secara bebas. Selain itu seorang anak berhak pula untuk mendapat kesempatan penuh untuk bermain dan rekreasi.

Berbicara dalam lokakarya "Kesehatan Mental di Sekolah: Pendekatan Komprehensif" di Fakultas Psikologi UGM, Prof Sunartini menjelaskan, berbagai hak anak itu idealnya dapat dipenuhi. Pemenuhan hak anak atas pendidikan, kesempatan tumbuh kembang, kesempatan berkreasi dan berperan serta dalam kehidupan sehari-hari.

Membahas materi mengenai kontribusi aspek neuropsikologi dalam membangun kesehatan mental siswa, Prof Sunartini  mengungkapkan tak sedikit anak dirujuk oleh dokter, psikologi sekolah atau profesional lain karena satu atau dua permasalahan. Entah kesulitan dalam belajar, perhatian dan perilaku. Atau karena kesulitan sosialisasi atau kontrol emosional, serta penyakit atau permasalahan terkait perkembangan bawaan yang mempengaruhi otak.

"Namun terkadang ditemui pula karena cedera otak karena kecelakaan, trauma lahir, hingga tekanan fisik lain," ungkap spesialis neurodevelopmental FK UGM itu.

Pembicara lain, dokter Carla Raymondalexas Marchira SpKj menyayangkan keterbatasan pertemuan antara anak dan orang tua saat ini. Karena kesibukan tak jarang anak-anak dititipkan di sekolah atau bersekolah sampai sore.

"Waktu bertemu pun terbatas, jika ada waktu biasanya orangtua sudah merasa lelah sehingga kualitas pertemuan antara orangtua dan anak sangat kurang," katanya.

Mengupas materi mengenai siswa yang berisiko mengalami gangguan kesehatan mental, dokter Carla yang seorang psikiater FK UGM/RSUP Dr Sardjito miris dengan kehidupan kota saat ini. Meski belum ada penelitian yang jelas benar, namun secara empiris kehidupan kota besar lebih di warnai dengan interaksi sosial yang bersifat individualistis dan konsumtif. Sebaliknya di kota kecil lebih bersifat kekeluargaan.

(Bambang Unjianto/CN33)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
26 Mei 2012 | 22:59 wib
Dibaca: 212
image
24 Mei 2012 | 09:54 wib
Dibaca: 319
image
21 Mei 2012 | 19:01 wib
Dibaca: 786
image
14 Mei 2012 | 21:04 wib
Dibaca: 2061
image
14 Mei 2012 | 00:17 wib
Dibaca: 1874
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER