panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
09 Juli 2010 | 20:13 wib
Waspadai Alergi pada Anak
image

JANGAN sepelekan alergi pada anak, sebab gangguan ini ternyata tak hanya menyerang kulit atau paru, melainkan semua organ tubuh, termasuk otak. 

Selama ini kita sering mendengar bahwa gejala alergi adalah batuk, pilek, sesak dan gatal di kulit. Padahal, alergi dapat menyerang paru, kulit, saluran kencing, jantung, bahkan susunan saraf pusat (otak).

Dalam lima dekade, di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terjadi peningkatan prevalensi alergi sebanyak empat hingga lima kali lipat. Peningkatan signifikan terjadi pada angka penyakit gangguan sistem daya tahan tubuh, seperti alergi.

"Penyakit alergi sangat erat dengan daya tahan tubuh anak," kata Pakar internasional kesehatan anak, Sibylle Koletzko, dalam acara temu media di Jakarta, awal pekan ini.

Kepala Divisi "Pediatric Gastroenterology and Hepatology", Ludwig Maximilians University Munich, Jerman itu mengatakan bahwa di Indonesia lima besar makanan pencetus alergi pada anak yaitu kelompok `crustacea`, kacang, makanan laut, telur juga susu sapi.

"Alergi adalah respon sistem daya tahan tubuh secara berlebihan terhadap substansi yang biasanya tidak berbahaya, yang dapat menimbulkan gejala yang merugikan tubuh, mulai dari gangguan pernapasan, gangguan pada saluran cerna, maupun kulit," jelasnya.

Melejitnya kasus alergi pada anak di Indonesia, selain karena faktor genetik, juga dipengaruhi faktor lingkungan, seperti dipaparkan Kepala Divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, Zakiudin Munasir. 

Karena itu, sangat penting bagi ibu untuk melakukan tindakan preventif saat masa kehamilan, kelahiran maupun pada masa kanak-kanak. Mengapa demikian? sebab jika kita memiliki alergi pada masa kanak-kanak, maka saat beranjak dewasa resiko terkena alergi pun juga besar.

Namun demikian dikatakan bahwa alergi hingga kini belum dipandang sebagai ancaman epidemik seperti penyakit infeksi. Itulah sebabnya mengapa belum banyak tindakan preventif yang dilakukan masyarakat.

Padahal perlu diketahui, keadaan ini berpotensi menjadi masalah di kemudian hari. Tak hanya mengganggu kualitas hidup penderita, namun juga dapat menurunkan produktivitas orang-orang di sekelilingnya, penyebab stres pada anak serta menurunkan prestasi anak.

 

 

(ant/CN16)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
26 Mei 2012 | 22:59 wib
Dibaca: 210
image
24 Mei 2012 | 09:54 wib
Dibaca: 319
image
21 Mei 2012 | 19:01 wib
Dibaca: 786
image
14 Mei 2012 | 21:04 wib
Dibaca: 2061
image
14 Mei 2012 | 00:17 wib
Dibaca: 1874
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER