Subcribe RSS RSS SUARAMERDEKA.COM
TRY OUT UJIAN NASIONAL ONLINE

+ Indeks  

.:Kuliner


Kisah Nyata

03 Juli 2006 | 19:00 wib

Jantungnya acap berhenti berdetak...

image

Ketika ikut kongres dokter obsetri di Washington, tiba-tiba jantungnya kambuh. Bahkan, sempat berhenti berdetak. Tapi, kenapa dokter ramah ini bahkan bersyukur karena "kematian kecil" itu terjadi di negeri Paman Sam. Berikut pengakuannya kepada SM CyberNews.

Sebenarnya sejak kecil saya sudah merasa jantung saya tak benar. Saat menginjak kelas tiga sekolah dasar, tubuh saya seperti berbeda dari teman-teman. Bayangkan saja, tiap kali bekerja membantu orang tua, jantung ini berdebar-debar terus. Begitu juga saat lari-lari atau berolah raga, debaran jantung saya semakin kencang. Kira-kira detakan jantung saya 120 detak permenit. Keringat keluar banyak sekali. Padahal teman-teman saya tak seperti itu. Tapi saya tak begitu memikirkannya. Saya anggap biasa saja.

Baru akhirnya, ketika saya masuk Fakultas Kedokteran, mulai meraba-raba kelainan yang saya rasakan. Kalau normal seharusnya detak jantung saya 80 per menit. Hanya kadang-kadang saya periksa lewat foto rontgen. Saat difoto, jantung saya memang sudah membesar. Jantung seperti itu memang tak baik. Tapi saat itu, belum bertindak apa-apa.

Akhirnya, pada 1964 setelah lulus Fakultas Kedokteran dan jadi asisten di bagian obgin, mendadak jantung saya berdebar-debar, napas tersengal-sengal, dan banyak mengeluarkan keringat dingin. Saya langsung dibawa ke ruang ICU RS Dr Kariadi. Selama tiga hari saya di sana. Tubuh ini dipasang dengan banyak peralatan medis. Juga diwajibkan minum obat-obatan. Kemudian saya dirawat di ruang perawatan selama tiga hari. Setelah kondisi saya membaik, baru diizinkan pulang. Oleh Prof Budi Darmaja, saya divonis menderita isomik deseases atau jantung kekurangan oksigen. Sejak saat itu, saya dinasehati oleh dia agar tak bekerja berat-berat, dan jangan sampai terlalu capai.

Nekat ke Australia

Sejak saat itu saya pun rajin mengonsumsi obat inderal untuk menjaga kondisi jantung. Saya pun dikonsultasikan ke Jakarta. Dokter ahli jantung di Jakarta, Dr Sukarman (alm) juga menyatakan kelainan jantung saya karena isomik. Dia pun menyarankan saya untuk selalu berolah raga teratur.

Sepulang dari perawatan di Jakarta, saya akan dikirim tugas ke Australia. Saya nekat berangkat, meski semua anggota keluarga melarang termasuk isteri saya, Siti Isbandiyah. Mereka khawatir saya mendapat serangan jantung di sana. Karena baru seminggu dirawat. Tapi saya tenang-tenang saja berangkat, dan berada di sana 6 bulan. Ternyata tak ada apa-apa, dan pulang dalam kondisi sehat. Mungkin saja, kerjanya tak terlalu berat, jadi saya tak apa-apa. Sakit saya baru kumat jika kerja berat atau stres.

Serangan jantung kali kedua baru saya rasakan dua tahun kemudian. Tepatnya pada 1966. Ketika mengajar di kampus, seketika kumat. Napas sesak sekali, keringat mengucur deras. Saya pingsan! Kali agak parah, kaki saya sampai bengkak. Kembali saya dilarikan ke ICU. Diagnosanya pun sama, isomik.

Setelah minum obat inderal, kondisi saya membaik lagi. Saya pun melakukan aktivitas seperti biasa. Sampai enam tahun kemudian, pada 1972 saat ikut kongres spesialis obgin di Bandung, saya kumat lagi. Saat itu tengah malam, saya terbangun. Tiba-tiba napas saya sesak lagi. Kemudian dilarikan ke RS Hasan Sadikin. Selama empat hari saya opname di sana.

Obat saya pun bertambah. Selain inderal, saya juga dikasih obat valium atau penenang. Obat ini membantu saya. Kalau merasa jantung tak enak, maka saya minum obat ini. Kemudian tidur, esoknya sudah sembuh. Bolak-balik, terus saya minum obat itu. Dalam rentang waktu cukup lama, saya tak mendapatkan serangan jantung mendadak. Saya pun tak mengurangi aktivitas. Hanya saja saya tetap berolah raga secara teratur.

Seperti di Film

Akhirnya, pada September 2000, kembali jantung saya kumat. Kali ini terjadi saat saya ikut kongres obsetri di Washington. Mungkin, serangan yang keempat ini serangan yang terhebat. Jantung saya sempat berhenti. Saya pikir, saya akan mati saat itu. Saya benar-benar sudah tak bisa apa-apa.

Saya memang sangat kecapaian. Sebelum ke Amerika, saya ikut seminar KB di Jakarta. Satu minggu kemudian, terbang ke Eropa. Selama tiga hari saya berjalan-jalan di sana. Setelah itu langsung berangkat ke Amerika. Tiba di Washington sore hari, malamnya langsung ikut upacara pembukaan kongres. Setelah acara seremoni selesai, pulang ke hotel. Nah, di Washington Hotel ini saya jantung saya kumat.

Malam itu sekitar pukul 12 malam saya bangun tidur untuk kencing. Kemudian saya berniat tidur lagi. Saat duduk di bad, mendadak sesak napas. Sampai sekitar 10 menitan saya tak sadar. Setelah itu, saya langsung bilang ke isteri ''Rumah sakit!.''

Dibantu rekan-rekan saya, isteri saya langsung memanggil ambulan. Cepat sekali, tak sampai 10 menit, mobil ambulan itu tiba, lengkap dengan satu mobil pemadam kebakaran. Saat itu saya masih antara dasar dan tidak, dibawa ke RS Pendidikan Washington. Namun, saya mendapat perawatan sejak di dalam ambulan. Di mobil itu sudah terpasang peralatan lengkap. Saya langsung dimasukkan ke kamar operasi. Dokter hanya bilang, ''You must be operated!'' Saat itu saya belum sadar benar, tangan saya masih gemetar. Dalam kondisi seperti itu, saya diminta tanda tangan. Akhirnya, sambil dipegangi dokter, saya bubuhkan juga tandatangan dengan gemetaran.

Setelah operasi selesai, suasana jadi lebih terang, dan semakin terang. ''Oh...saya masih hidup,'' begitu ucapan batin saya.

Selama lima hari saya dirawat di sana. Kemudian pulang ke Indonesia, dan harus observasi di RS Harapan Kita Jakarta selama dua minggu. Biaya operasi 60 ribu dolar Amerika Serikat. Namun, saya beruntung pengurusan asuransinya sangat cepat. Tinggal telepon saja sudah beres. Operasi itu ditanggung 30 ribu dolar. Tak apa, sisanya 30 ribu dolar harus bayar sendiri.

Namun, saya benar-benar beruntung, jantung saya kumat saat di Washington. Penanganannya sangat cepat. Pokoknya seperti di film-film itu. Datangnya ambulan, sampai penanganan rumah sakit cepat sekali. Birokrasinya tak berbelit-belit. Begitu tiba, operasi sudah siap. Dokternya pun siap. Saya langsung ditangani. Saya bayangkan andai kejadian itu terjadi di Indonesia, mungkin saya sudah mati.

Tetap beraktivitas

Penyebab kelainan jantung Prof Untung baru terkuak setelah anfal ke empat di Washington. Selama di Indonesia, hanya menyebutkan kelainan itu sebagai isomik deseases yakni, jantung kekurangan zat oksigen (O2).

''Setelah di Amerika itu, baru diketahui secara pasti kenapa jantung saya bisa kekurangan oksigen,'' tutur dokter spesialis kandungan paling senior di Semarang.

Kalangan medis di AS menyebut kelainan jantung tersebut dengan artevia. Ada penyumbatan di tiga tempat pada jantungnya. Karena penyumbatan itulah pasokan oksigen jadi terhambat.

''Dokter memasang dua selang, sedangkan yang satu bagian sulit, sehingga tak dipasang,'' tutur bapak empat orang anak ini.

Kini meski sudah empat kali mengalami anfal dan telah menjalankan operasi jantung, pria kelahiran Temanggung 29 Oktober 1935, tetap menjalankan rutinitas seperti biasa. Dia tetap aktif mengajar di Fakultas Kedokteran Undip, di sejumlah universitas swasta, melayani pasien, juga menjadi relawan di Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jateng.

''Biasa saja, malah tadi pagi jam empat saya mengoperasi pasien,'' tutur pria yang jadi relawan PKBI sejak tahun 1980-an.

Tentunya, tambah dia, juga diimbangi olahraga secara teratur.

''Kalau dulu masih boleh lari-lari, kini hanya dibolehkan jalan-jalan setiap pagi,'' tutur Prof Untung.

(eko nuryanto/CN02)


Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share

Baca Komentar | Kirim Komentar


Artikel Terbaru

Hindari Stretch Mark Pada Ibu Hamil

16 Maret 2010 | 18:11 wib

image

Munculnya guratan-guratan putih atau stretch mark di perut, paha, dan payudara pada wanita hamil sudah menjadi hal yang umum. Namun bukan berarti Anda…

Anak Menderita Rinitis Alergi

12 Maret 2010 | 15:06 wib

image

Dok, anak saya didiagnosa menderita rinitis alergi yang menyebabkan dia sering bersin dan pilek. Kata dokter, anak saya alergi terhadap debu. Bisa tolong…

Penyakit 'Zoonosis' Semakin Mengancam

10 Maret 2010 | 12:22 wib

image

Ancaman penyakit infeksi menular dari hewan ke manusia atau disebut juga 'zoonosis' meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebab itu pemerintah harus…

Jangan Pencet Jerawatmu

05 Maret 2010 | 15:36 wib

image

Para remaja disarankan agar tidak memencet jerawat karena akan menyebabkan infeksi. Demikian disampaikan dokter kulit Laboratorium Pramita, dr Andrew…

Calon Suamiku Mengidap Hernia

27 Februari 2010 | 23:32 wib

image

Begini dokter, bulan depan saya akan menikah, tetapi sekarang calon suami saya menderita hernia, dulu waktu dia kecil dia dinyatakan telah sembuh namun…


© 2009 SUARAMERDEKA.com. All rights reserved.