
Melalui transfer energi, tabib satu ini mampu mendeteksi hepatitis di tubuh seseorang. Dengan ramuan tradisional ia menyembuhkannya.
Serangan hepatitis biasanya ditandai dengan gejala-gejala seperti badan terasa lemas, mudah capai, malas-malasan, daya ingat menurun, serta vitalitas tubuh yang menurun drastis. Aura tubuh pun menjadi kekuningan. Wajah pucat seperti tak ada aliran darah.
Virus ini memang melemahkan fungsi hati.
''Virus Hepatitis tergolong virus yang tak bisa dibunuh. Pengobatan-pengobatan yang dilakukan hanya mampu melemahkannya. Pengidap hepatitis bisa bugar kembali, jika virus yang bersarang dalam tubuhnya tak bekerja lagi,'' ujar Iman Pringgodani, pria yang mengaku sebagai spesialis pengobat penyakit hepatitis.
Pengobatan yang ada selama ini, baik medis maupun alternatif, menurut dia, hanya bisa melemahkan virus. Tapi itu bisa berlangsung dalam jangka waktu lama. Bahkan bisa menghentikan kinerja virus tersebut. Asal selama itu penderita tak melanggar pantangan-pantangannya. Menurut Iman, pantangan tersebut antara lain tak mengkonsumsi daun so, jeroan, serta makanan-makanan berlemak. Jenis makanan itu, diyakini bisa membangkitkan virus yang telah melemah.
''Biasanya setiap pasien yang datang, kalau ada, saya minta dulu hasil tes laborat. Ini untuk memudahkan pengobatan,'' kata dia.
Kemudian data medis tersebut oleh pria asal Yogyakarta itu dicocokkan dengan pendeteksian yang dia lakukan secara langsung terhadap pasien. Dengan memadukan dua data tersebut, dia berkeinginan pasien bisa meyakini pengobatan yang dia lakukan.
''Bisa saja saya mengandalkan deteksi saya, tapi biar pasien yakin, setelah tahu tes medis tersebut hasilnya sama dengan deteksi saya,'' ujar dia.
Dia mendeteksi penyakit dengan cara transfer energi ke tubuh pasien. Sebelum memulai, Iman melakukan meditasi. Pada saat itu dia melafalkan Al Fatihah 3 kali, doa khusus untuk empat sahabat Rasul, kepada 4 malaikat, Jibril, Mikael, Izrail, dan Isrofil. Ditambah dengan doa untuk Nabi Khidir, pakar pengobatam zaman Nabi Musa dan Nabi Sulaiman.
Setelah itu, dia memegang nadi pasien untuk memastikan peredaran darah pasien lancar. Kemudian lewat punggung pasien, dia mentransfer energi. Getaran-getaran yang dia rasakan pada saat itu menandakan bahwa pasien benar-benar mengidap virus Hepatitis. Berat tidaknya sakit yang pasien derita tergantung getaran yang dia rasakan. Tahapan itu berlangsung sekitar 15-20 menit. Saat itu biasanya, pasien merasakan panas pada punggungnya.
''Kalau tak ada getaran, ya tak ada penyakit. Saya lebih yakin kalau ada tes laborat. Dengan begitu pasien tahu kondisi sebelum dan sesudah saya obati,'' ujar tabib yang tinggal di Jalan Warigalit Raya 235, Perumnas Krapyak, Semarang.
Ramuan Jawa
Setelah yakin, si pasien mengidap hepatitis yang dikuatkan dengan deteksi dan tes laborat, Iman baru melakukan pengobatan. Pasien diberi tiga macam obat, yakni ramuan yang sudah dikemas dalam kapsul, cairan, serta minyak oles. Menurut dia, minyak oles berfungsi untuk mengendurkan urat syaraf. Ini perlu untuk melancarkan peredaran darah. Karena peredaran darah yang tak lancar akan menghambat pengobatan. Kemudian
cairan untuk menambah stamina. Sebab, jika stabilitas tubuh kurang, tenaga tak ditambah, tak akan kuat menerima ramuan obat. Sedangkan kapsul merupakan ramuan untuk melemahkan virus atau membunuh bakteri.
''Jadi ketiganya merupakan sinergi dan saling terkait,'' ujar dia.
Ramuan tersebut merupakan obat tradisional Jawa yang dia racik sendiri. Untuk penyakit hepatitis, biasanya dia meramu kuniran, adas pulowaras, sambiroto, gosamsi, serta kunir putih. Dosis ramuan itu untuk tiap orang berbeda. Tergantung kuat tubuh dan tingkat keparahan penyakit yang diidap.
''Sakitnya sama, belum tentu obatnya sama. Sebab daya tahan tubuh orang berbeda,'' ujar Iman.
Penentuan dosis tersebut berdasar dari hasil pemeriksaan laboratorium, denyut nadi, serta transfer energi. Sedangkan frekuensi pengobatan tergantung stadium penyakitnya. Jika sudah parah, lama pengobatan bisa mencapai 3-4 bulan.
''Tapi tak selamanya begitu, kadang baru 2 bulan pengobatan sudah sembuh,'' kata suami Umi Daryati.
Selain faktor itu, lanjut dia, kepercayaan pasien juga turut membantu penyembuhan. Ketika mereka tahu bahwa hasil tes laborat cocok dengan deteksi dirinya, pasien sudah tersugesti.
''Dengan begitu penyembuhan dia tak dianggap oleh pasien hanya coba-coba,'' ujar pria yang mengenal obat-obatan tradisonal sejak kanak-kanak.
Jarak Jauh
Pada kondisi-kondisi tertentu, Iman juga mengaku bisa mendeteksi pasien dari jarak jauh. Jadi pasien tak perlu datang ke tempat praktiknya. Namun, dia tak mau begitu saja melakukan pengobatan jarak jauh. Hanya pasien-pasien yang tergolong parah yang memeroleh layanan ''istimewa'' dari dia.
''Pasien tinggal menyebut nama lengkap dirinya dan ayahnya, setelah itu baru digarap. Sedangkan obat dikirim lewat paket pos,'' ujar dia.
Namun dia jarang-jarang melakukan itu. Karena kalau si pasien bisa berjalan sendiri dan masih memungkinkan dibawa ke tempat praktiknya, dia menganjurkan pasien untuk datang ke rumah.
''Soalnya deteksi jarak jauh ini berat, tenaga kita bisa habis. Makanya ini hanya untuk mereka yang sudah sangat parah,'' aku dia.
Selain itu jika jaraknya sangat jauh juga bisa dilayani terapi jarak jauh ini. Misalnya saja salah seorang pasien dia yang berada di Irian yang mengidap kanker otak. Setelah pengobatan selama tiga bulan, ungkap dia, pasien tersebut berangsur sembuh.
Dia akui hampir 70 persen pasien bisa tersembuhkan. Memang dari sejumlah pasien dia, tak semuanya pengidap hepatitis. Karena dia mengaku bisa menyembuhkan kanker, tumor, dan gagal ginjal.
Dengan ramuan-ramuan tradisional tersebut, dia menjamin tak ada efek samping. Karena tak mengandung zat kimia. ''Insyaallah, setelah penyakitnya tersembuhkan tak akan menderita penyakit lain karena obat saya,'' kelakar dia menutup perbincangan.
Warisan Pak Dhe
Dunia obat-obatan tradisional memang diakrabi Iman sejak kecil. Saat masih kanak-kanak dia biasa diminta tolong paman dia, Ki Selo Pujo Prayitno untuk membeli bahan ramuan. Terkadang, dia malah diminta juga untuk mencampur bahan itu menjadi ramuan obat.
''Saya senang saja, karena Pak Dhe selalu memberikan uang sisa pembelian untuk saya,'' tutur dia.
Terkadang dia bertanya-tanya kenapa dirinya yang sering disuruh, bukan anak Pak Dhe. Dia memang tak menyadari, rupanya itulah cara Ki Selo Pujo Prayitno menurunkan ilmu pengobatan kepada dirinya. Mungkin saja, kalau secara langsung dan terang-terangan, dia diminta untuk meneruskan keahlian Pak Dhe-nya, tentu akan ditolak.
''Sungguh tak kelihatan kalau Pak Dhe menurunkan ilmu pada saya. Hanya saja, rapalannya memang diberikan setelah saya besar,'' ujar alumnus Akpari Semarang.
Ilmu tabib tersebut hanya diturunkan kepada dia dan kakaknya. Sedangkan anak-anak Pak Dhe tak ada yang mengikuti jejak sang ayah.
Sampai Pak Dhe meninggal, Iman tak juga menyadari dan belum punya keyakinan kalau dirinya punya keahlian di bidang pengobatan.
Kali pertama mengobati pasien, juga tak sengaja dia lakukan. Saat itu ada salah seorang temannya ada yang kemasukan roh, dan teman-teman lainnya meminta dia untuk menyembuhkan. Ternyata sembuh.
''Malah ada teman saya yang sakit, mimpi takkan sembuh jika bukan saya yang mengobati. Ternyata setelah saya pegang juga sembuh. Sejak saat itulah saya baru yakin jika bisa mengobati,'' tutur pria berusia 35 tahun ini.
Dunia pengobatan pun akhirnya dia tekuni baru tujuh tahun lalu. Dan sampai kini dia masih sering geli dengan dunia yang dia geluti. Bagaimana tidak?
''Saya kuliah di Akpari yang menekuni masalah pariwisata dan perhotelan, ternyata justru tabib jadi jalan hidup saya,'' tutur Iman, sumringah.
(eko nuryanto/CN02)