panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
03 Juli 2006 | 18:08 wib
Dia yang hidup tanpa rahim (2)
image

Pilihan saya menolak operasi bukan tanpa risiko. Setiap saat perut saya bisa kambuh, dan sakitnya sungguh luar biasa. Tapi tak apa, saya ngeri kalau usus saya harus dipotong. Sakitnya pasti luar biasa.

Meski kini sebenarnya saya masih dalam kondisi sakit, tapi bukan berarti, saya harus istirahat atau meratapi kesakitan ini. Itu tak ada dalam kamus hidup saya. Saya harus tetap tegar, seperti tak ada satu pun penyakit yang menggerogoti. Termasuk menjalani aktivitas sehari-hari, harus mengurus anak, suami, juga ayah (kini sudah meninggal), serta tugas-tugas profesi. Jadi saya lakukan semua itu; sebagai ibu, istri, dan dosen sekaligus, meski dalam kondisi sakit. Tapi saya sanggup. Saya memang harus mandiri. Apalagi suami tinggal di Yogyakarta.

Saya juga tak harus shock saat menghadapi operasi. Meski itu harus saya hadapi sendiri. Berangkat operasi pun sendiri. Misalnya saja, besok masuk rumah sakit untuk operasi, hari ini saya masih mengantar Almira Santi, anak kedua saya, nonton film Dalmation. Tapi koper, serta keperluan untuk opname sudah siap semua. Usai nonton, saya pamitan pada anak, dan menyetir mobil sendiri ke rumah sakit. Kunci mobil saya titipkan satpam.

Pulang operasi, saya tak bisa tiduran saja. Kaki ini rasanya gatal. Inginnya bergerak terus. Kalau saat itu melihat kamar mandi kotor, ya langsung saya bersihkan. Bayangkan saja, tiga minggu setelah operasi, saya pun sudah nyetir mobil sendiri. Perut masih perbanan. Memang sakit sekali rasanya. Tapi tetap saya tahan.

Pernah satu bulan setelah operasi, saya langsung ikut out bond. Turun tebing pakai tali, itu pun saya lakoni. Itu biasa bagi saya. Saya sudah bisa menyeimbangkan tubuh, dan tahu potensi juga kelemahan. Karena setiap rasa kesakitan menyerang, jiwa dan raga ini saya ajak bicara karena dasarnya jiwa dan raga itu satu. Itu yang membantu kesembuhan, juga menambah kekuatan saya menghadapi beragam cobaan.

Berdialog dengan diri sendiri, saya semakin tahu siapa diri saya. Apalagi, saya memang terlalu percaya diri, termasuk dalam menghadapi penyakit. Sehingga tetap tegar. Penyakit ini tantangan, dan saya harus bisa menghadapi serta bisa mengatasi itu. Sehingga apa pun yang terjadi, bisa saya ambil hikmahnya. Jika orang bisa mengambil itu maka akan bisa lebih bijak dan dewasa.

Prinsip saya, saat sakit harus dijalani dengan biasa saja. Kalau sakit itu dimanja, makin terasa sakit. Ketegaran saya ternyata dicontoh anak sulung saya, Aditya. Malah dia lebih kuat. Tahun 2001 lalu, dia kena tumor otak. Dia lihat ibunya selalu tegar, dia pun lebih kuat melawan sakitnya itu. Dia tak mau dikatakan sebagai anak yang sakit. Sekarang dia masuk Fisipol UGM Yogyakarta, semester I.

Saat ini saya punya cara untuk menghilangkan rasa sakit. Saya selalu meditasi jika rasa sakit itu menyerang. Itu cara penyembuhan yang saya lakukan. Jika sakit datang, saya diam. Tarik napas, saya kumpulkan di tempat yang sakit, lalu dihembuskan. Terus begitu sampai ras sakit itu menghilang.

Tentu saja dibarengi dengan doa, semampu saya, yang penting menyebut nama Allah. Dalam diam dan mata terpejam, saya buat titik yang sakit dalam tubuh, saya tarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan. Syaratnya, saya harus benar-benar konsentrasi.

Ternyata dengan metode itu saya bisa menghilangkan rasa. Jadi saya terus mencobanya. Penyembuhan dengan meditasi ini juga yang menjadi pertimbangan saya menolak operasi.

Sebenarnya, kemampuan ini saya dapatkan secara tak terduga. Dalam mimpi, saya diajari oleh orang berjubah putih. Kala itu masih duduk di bangku SMP.

Metode ini sangat membantu saya meredakan kesakitan. Karena rasa sakit itu datang tak terduga. Bisa menyerang kapan saja. Jika tiba-tiba rasa sakit itu datang, saya langsung meditasi, di mana pun tempatnya bisa saat ceramah, atau kuliah.

Untuk tahu apakah saya sehat atau sedang sakit mudah. Jika saya hanya duduk, pasti saya sedang sakit. Kalau saya sehat, dalam berceramah atau kuliah saya, tak pernah diam, saya selalu sambil jalan-jalan di ruang. Nah, saat diam itu saya bermeditasi. Orang tak tahu itu. Meditasi ternyata juga membuat saya tegar dalam menghadapi musibah apa pun. Termasuk ketika bapak meninggal, saya tak lagi menangis.

Selama ini Allah memberi kekuatan. Sehingga badan saya tetap kuat. Saya benar-benar mengagungkan nama-Nya. Saya tak riya, kekuatan yang ada pada tubuh saya ini karena karunia Dia. Tahun ini saya berangkat haji, lewat Yogyakarta. Saya coba mencari kesembuhan yang hakiki di tanah suci. Minta pada Allah SWT.

Saya tak menderita

Meski tubuhnya tak sehat, Hastaning Sakti tetap saja sibuk. Segudang kesibukan masih dilakoni alumni Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta ini. Simak saja, dari mengajar di Fakultas Psikologi Undip, melayani konsultasi klien, menulis paper, berbicara di berbagai seminar, siaran televisi dan radio, sampai mendampingi penderita AIDS.

''Kalau ada klien, malah bisa sampai pukul tiga pagi,'' aku ibu Aditya dan Almira Santi itu.

Beragam penyakit yang dia alami tak dia ratapi. Segala yang terjadi dia ambil hikmahnya. Dia yakin Allah takkan memberi cobaan berat jika umatnya tak kuat menghadapi cobaan itu.

''Dan saya terima cobaan ini sebagai tantangan. Saya harus mampu menghadapinya,'' yakin istri DR Sumsubar Saleh MSOC SC, seorang dosen UGM Yogyakarta.

Dari kesibukan itu, aku lulusan S2 Clinical Epidemiology Fakultas Kedokteran UGM, akhirnya dia tahu saat-saat tubuhnya merasa sangat capai. Biasanya pukul 20.00-22.00 WIB

''Itu harus saya manfaatkan untuk istirahat, selepas jam itu saya kerja lagi sampai pukul 01.00,'' ungkap perempuan yang menggemari beragam topi ini.

Hastaning Sakti berprinsip positif thingking dan lakukan yang terbaik, do the best. Itu merupakan salah satu cara dia menyikapi beragama cobaan hidup. Aku dia, prinsip tersebut semakin hari makin erat dipegang. Katanya, itu penting untuk bisa mengambil hikmah dari balik setiap peristiwa yang dia hadapi.

''Selama hidup saya lakukan itu dan sepertinya telah terinternalisasi dalam diri saya,'' ungkap dosen Fakultas Psikologi Undip itu.

Dia mengaku telah berhasil mengambil hikmah dari serentetan penyakit yang diidapnya. Satu yang terpenting, dia tak mau dikatakan menderita sakit. Sakit bukan penderitaan. Manusia harus menghadapi hidup. Dan menganggap setiap cobaan sebagai penderitaan atau tantangan?

''Saya ambil sakit ini bukan penderitaan. Ini pengalaman hidup untuk menghadapi tantangan yang lebih berat,'' ujar ibu dua anak ini.

Selama ini dia menganggap rintangan-rintangan itu berat. Saya tahu, tantangan ke depan pun pasti tambah lebih berat. Karena itu dia masih bisa tertawa lepas, dan menganggap seperti tak terjadi apa-apa dalam tubuhnya. Padahal saat operasi terakhir, pada Juli 2003, ususnya sudah sangat kritis.

''Saya baru tahu ini dari cerita paman enam bulan lalu. Tapi nyatanya saya tak apa-apa sampai kini,'' kisah Hasta yang mengaku kerepotan jika serangan sakit itu datang saat menyetir mobil. Sangat repot! Tangan kiri memegang perut, tangan kanan pegang setir. Susahnya saat ganti persneling, harus lepas setir.

(eko nuryanto/CN02)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
26 Mei 2012 | 22:59 wib
Dibaca: 208
image
24 Mei 2012 | 09:54 wib
Dibaca: 319
image
21 Mei 2012 | 19:01 wib
Dibaca: 786
image
14 Mei 2012 | 21:04 wib
Dibaca: 2061
image
14 Mei 2012 | 00:17 wib
Dibaca: 1874
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER