panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
09 Desember 2013 | 06:10 wib
Pendidikan Indonesia dalam Tantangan

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Berbagai tantangan sedang dihadapi bangsa Indonesia, terutama dalam dunia pendidikan. Bangsa kita menahan beban tantangan filosofis, moral, profesional, dan metodologis. Pembaharuan pendidikan nasional mutlak perlu adanya pedoman filosofis yaitu Konstruk Filosofi Pendidikan Nasional Pancasila.

Pengembangan Filosofi Pendidikan Nasional Pancasila dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan eklektik-inkorporatif-harmonis-dinamis. Eklektis ialah bersifat memilih yang terbaik dari berbagai sumber (KBBI, 12012), Eugene Ehrlich et.al 1986: 272). Inkorporasi ialah to include as apart (Eugene Ehrlich et.al 1986: 446) atau to combine into a unifide whole (Webster?s Dictionary, 1993).

Demikian ungkap Dr Dwi Siswoyo MHum dalam stadium generale yang dihadiri sekitar 390 mahasiswa PGSD Uhamka Jakarta. Acara itu diadakan di Pendopo Kampus III FIP UNY, dan dibuka secara resmi oleh Dekan FIP UNY Dr Haryanto.

Lebih lanjut, Dia memaparkan bahwa bangsa Indonesia seperti yang dinyatakan Prof Dr T Jacob sedang dilanda bencana moral yang kita buat sendiri, yaitu antara lain diterpa banjir korupsi, erosi dan longsornya etika, kebakaran disiplin, gempa adat istiadat, ledakan kerusuhan dan letusan emosi primer yang erat terkait pada egoisma dan survival, badai kejahatan, kemarau iman, hama narkotik, dan wabah suap.

Kegagalan pendidikan dengan dramatis dipamerkan oleh anggota-anggota badan perwakilan kita, yang nyata terlihat bukanlah wakil rakyat, melainkan wakil partai.

Untuk menjadi tenaga edukator/guru yang profesional, selain perlu dimilikinya pengetahuan know-how yang vital, yang mendukung menjadikan pendidikan secara efektif dan efisien, juga perlu dimilikinya pengetahuan yang fundamental tentang pendidikan. Pengetahuan yang fundamental yang menjadi dasar pendidikan dikenal dengan rubrik fondasi-fondasi pendidikan (foundations of education).

Guru sendiri dituntut untuk menunjukkan kemampuan berkomunikasi dengan baik terhadap peserta didik, sesama guru, kepala sekolah , tenaga kependidikan lain, dan orang tua dan masyarakat pada umumnya. Guru dalam hal ini perlu lebih menekankan aspek leadership (focuses on doing the right things) yang  berparadigma baru dari pada aspek manajemen (focuses on doing things right) itu sendiri yang sering kurang human.

( Bambang Unjianto / CN39 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Kedu Terbaru
05 September 2014 | 21:45 wib
Dibaca: 23351
05 September 2014 | 20:15 wib
Dibaca: 8643
05 September 2014 | 17:18 wib
Dibaca: 7865
05 September 2014 | 16:02 wib
Dibaca: 709
05 September 2014 | 14:55 wib
Dibaca: 982
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER