panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
18 Juni 2013 | 17:36 wib
Robert: Semarang Tak Bisa Bebas Banjir

SEMARANG, suaramerdeka.com - Melihat kondisi geografis dan penanganannya, maka Kota Semarang dinilai tidak akan bisa terbebas dari banjir. Saat terjadi hujan dengan intensitas sedang, banyak titik-titik genangan. Apalagi jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan dalam waktu yang cukup lama.

Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Diponegoro Robert J Kodoatie mengatakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya banjir adalah kesalahan tata guna lahan. Banyaknya ruang terbuka hijau yang semestinya menjadi daerah resapan justru berubah menjadi perumahan atau gedung perkantoran. Padahal itu bisa mengakibatkan tidak terserapnya air ke dalam tanah dengan ukuran 5-20 kali lipat.

Persoalan selanjutnya adalah penanganan sampah dan penurunan permukaan tanah. "Semarang tidak bisa bebas banjir. Yang harusnya dilakukan adalah pengelolaan dan pemisahan antara air hujan, limbah dan air bersih. Atau disebut dengan waterfall city," kata Robert, Selasa (18/6).

Penulis buku Rekayasa dan Manajemen Banjir Kota ini mengatakan dengan waterfall city pengelolaan lebih memungkinkan. Alasannya penanganan melalui metode grafitasi sudah tidak mungkin dilakukan. Terutama di wilayah yang memiliki ketinggian lebih rendah dari permukaan air laut. Bagaimanapun, sesuai dengan hukum grafitasi maka air akan selalu mencari tempat yang lebih rendah.

Hal ini merujuk pada banjir yang terjadi di wilayah Genuk beberapa waktu lalu, dimana genangan air sulit surut. Robert mengatakan wilayah itu berupa cekungan. Tanah akan kering saat kemarau, namun begitu hujan turun maka air menuju satu titik.

Dalam kasus seperti ini jika penanganan tetap dilakukan dengan metode grafitasi maka harus dibuat polder air ukuran besar dengan dilengkapi pompa yang membuang air ke laut. Namun, lanjutnya, hal ini akan membutuhkan biaya yang besar untuk perawatannya.

Menurutnya, banjir memiliki keterkaitan dengan rob. Sementara rob disebabkan lima hal yakni konsolidasi tanah aluvial (penurunan tanah yang belum mampat), pengambilan air tanah, bangunan, naiknya permukaan air laut dan gerakan lempeng Australia yang menurunkan permukaan daratan di Pantai Utara Jawa. Beberapa titik wilayah Semarang sudah mengalami penurunan. Misalnya Pelabuhan Tanjung Emas turun 11 cm/tahun, Stasiun Tawang turun 7 cm/tahun, dan Tanah Mas turun 4 cm/tahun.

"Ini adalah permasalahan kompleks. Penanganan harus tepat dan serius. Termasuk sikap masyarakat yang peduli pada lingkungan," katanya.

( Hanung Soekendro / CN38 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
31 Agustus 2014 | 15:07 wib
Dibaca: 41
31 Agustus 2014 | 14:53 wib
Dibaca: 139
31 Agustus 2014 | 14:39 wib
Dibaca: 122
31 Agustus 2014 | 14:24 wib
Dibaca: 124
31 Agustus 2014 | 14:10 wib
Dibaca: 132
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER