
JAKARTA, suaramerdeka.com - Potensi pasar 22 negara di kawasan Eropa Tengah dan Timur masih belum banyak digarap, terbukti share perdagangan ETT hanya 1,4% dari total perdagangan Indonesia yang mencapai USD 347 milyar pada tahun 2011 (hingga November). Kondisi serupa juga dihadapi bidang investasi karena banyak negara ETT sebatas berkomitmen saja sedangkan realisasi investasi mereka di Indonesia hanya USD 5,5 juta pada 2011.
Kendala jarak dan masih rendahnya intensitas interaksi antar pengusaha, merupakan tantangan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan perdagangan dan investasi Indonesia dengan negara ETT. Fakta di atas diungkap Duta Besar Eddi Hariyadhi dihadapan 90 pejabat, pengusaha serta akademisi Kalimantan Tengah dalam kegiatan “Sosialisasi Optimalisasi Pasar Non Tradisional Kawasan Eropa Tengah Timur” di aula Jayang Tingang, kompleks kantor Gubernur Kalimantan Tengah di Palangka Raya, baru-baru ini.
Para peserta sepakat bahwa untuk menggenjot nilai perdagangan RI, koordinasi Kemlu dan perwakilan RI di kawasan ETT dengan daerah perlu ditingkatkan, begitu pula market research komoditas unggulan, promosi, dan diversifikasi produk ekspor Indonesia.
Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang dalam sambutan pembukaan menyatakan sangat mendukung kegiatan sosialisasi yang diprakarsai oleh Kemlu ini dan mengharapkan seluruh pemangku kepentingan Kalteng untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kerjasama guna menarik investor asing dalam rangka membangun Kalteng.
Luas wilayah Kalteng yang 1,5 kali pulau Jawa serta memiliki memiliki sumber daya alam melimpah, terkendala oleh sedikitnya sumber daya manusia yang terampil maupun infrastruktur jalan raya, jembatan, pelabuhan laut dsb yang masih perlu dibenahi. Gubernur berharap investor Rusia dapat berpartisasi di berbagai sektor usaha lain sebagaimana ditunjukan para ahli-ahli Soviet ketika membangun “Jalan Palangka Raya- Tangkiling” di tahun 1960-an.
Senior Expert Perwakilan Perdagangan Rusia, Sergey Kukushkin, yang menjadi salah satu pembicara melihat terdapat prospek bagi investor Rusia untuk pembangunan pabrik baja di Kalteng karena daerah ini memiliki kandungan iron ore cukup besar.
Kukushkin juga melihat peluang industri mebel khususnya rotan mengingat bahan baku rotan di Kalteng sangat melimpah dan murah sedangkan minat dan harga jual di Rusia cukup tinggi. Selain itu Kukushkin menawarkan proyek pembangkit listrik tenaga biogas kepada Kalteng.