
PENYERAHAN: Rektor Undip Prof Sudharto P Hadi PhD menyerahkan kenang-kenangan menandai dianugerahinya Drs As'ad Said Ali (kanan) sebagai penerma gelar doktor kehormatan, Sabtu (11/2). (suaramerdeka.com / Bambang Isti)
SEMARANG, suaramerdeka.com - Terlepas dari kontroversi yang terjadi di balik penolakan sejumlah aktivis LSM, akhirnya acara penganugerahan gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) atas diri Drs As'ad Said Ali, Sabtu siang (11/2) berlangsung dengan lancar.
Drs As'ad Said Ali, Wakil Ketua Pengurus Besar (PB) Nahdatul Ulama (NU) menerima anugerah itu karena dianggap telah berjasa keluar dari mainstream dan memiliki jaringan yang luas dan mampu menjadi chemistry kebangsaan. "Juga gagasan dan pandanganya tentang hukum sebagai pengaman Pancasila agar tetap menjadi ideologi bangsa. Tokoh ini dinilai layak sebagai penerima anugerah Dr HC oleh Universitas Diponegoro," kata Rektor Undip Prof Sudharto P Hadi PhD.
Acara penganugerahan itu berlangsung di Gedung Prof Sudarto Kampus Undip Tembalang, Semarang, setelah diawali dengan terjadinya aksi unjuk rasa oleh sejumlah aktivis SM yang mempertayakan keabsahan tokoh itu sebagai penerima gelar kehormatan. Itu sebabnya acara itu dijaga ketat aparat kepolisian sejak pagi.
Sejumlah tokoh nasional menghadiri acara rapat senat terbuka dengan agenda penganugerahan itu, seperti Ketua MK Mahfud MD, Menakertrans Muhaimin Iskandar, dan Ketua PBNU Said Agil Syiraj.
Dalam sambutannya, Drs As'ad Said Ali yang pernah aktif di Badan Intelijen Negara (BIN) semasa mengemukanya kasus aktivis HAM almarhum Munir SH, itu mengatakan, "Berarti hari ini saya telah menjadi bagian dari Universitas Diponegoro, dan saya akan menjaga nama baik almamater Undip," kata Said Ali.
( Bambang Isti / CN33 / JBSM )