
YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Dalam beberapa waktu terakhir, warga Kota Depok (Jawa Barat) diresahkan dengan merebaknya kembali serangan penyakit flu Singapura yang pada tahun sebelumnya telah menyerang warga Jakarta dan sekitarnya. Data terakhir dari Dinas Kesehatan setempat menyebutkan setidaknya terdapat 26 warga baik dewasa maupun balita di daerah tersebut positif terinfeksi virus flu Singapura itu.
Pakar penyakit dalam spesialis paru-paru Fakultas Kedokteran UGM Dr Sumardi SpPD KP menuturkan bahwa flu Singapura bukanlah penyakit yang berbahaya. Meskipun begitu, Dia meminta masyarakat agar tetap waspada terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh virus coxsacie A16 (CA 16) dan EV71 itu, terutama jika terjadi pada balita.
"Masyarakat tidak usah panik dalam menghadapi kejadian ini karena virus flu Singapura tersebut memang tidak mematikan. Namun begitu jangan menganggap enteng, tetapi tetap perlu diwaspadai khususnya terhadap mereka yang mempunyai daya tahan tubuh rendah seperti anak-anak dan balita apalagi yang menderita asma, kelainan jantung dan paru-paru," tegasnya saat di temui di RSUP Dr Sardjito.
Dia menyebutkan, penderita yang terserang penyakit itu biasanya akan mengalami penurunan daya tahan tubuh. Apabila anak-anak yang menderita asma, kelainan paru-paru dan jantung terkena flu Singapura dan daya tahan tubuhnya tidak bagus maka penyakit itu akan memperberat penyakit bawaannya. "Sebetulnya virus ini tidak akan menimbulkan kematian, kecuali penderita memiliki penyakit lain misalnya asma, jantung, paru-paru, dan ginjal. Apabila tidak diantisipasi, dengan daya tahan tubuh yang menurun akan memberatkan penyakit yang diderita bahkan mengakibatkan kematian," jelasnya.
Flu Singapura dalam ilmu kedokteran dikenal dengan hand foot and mouth disease (HFMD). Gejala awal dari penyakit itu menyerupai flu pada umumnya seperti demam, sakit tenggorokan, pilek, tetapi disertai dengan munculnya bintil-bintil berwarna merah berisi cairan di telapak tangan, kaki dan mulut.
Dikatakan bahwa tidak ada obat khusus yang digunakan untuk virus flu Singapura itu.
( Bambang Unjianto / CN32 / JBSM )