
SEMARANG, suaramerdeka.com - Pemerintah menargetkan angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2015 turun menjadi 102 dari 228 per 100.000 penduduk, menyusul sejumlah upaya yang dilakukan guna meningkatkan kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir di Indonesia.
Dirjen Bina Gizi dan KIA Kemenkes RI Dr dokter Slamet Riyadi Yuwono mengungkapkan, data menunjukkan bahwa secara nasional sebanyak 44% kematian ibu terjadi di rumah sakit. Sehingga, menurutnya, kualitas pelayanan dan ketepatan waktu merujuk perlu untuk ditingkatkan. Dengan target penurunan AKI tersebut, berarti bahwa 10.000 kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan harus dicegah setiap tahunnya.
Program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) yang baru saja diluncurkan di Jateng, lanjut dia, merupakan salah satu upaya yang akan dilakukan hingga lima tahun ke depan. Hasil yang akan dicapai nantinya berupa peningkatan kualitas layanan kegawatdaruratan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
Termasuk di dalamnya kualitas rujukan yang efektif dan efisien; yang diklaim dapat menyumbang percepatan penurunan kematian sampai 25%. "Justru 44% kematian ibu melahirkan malah terjadi di rumah sakit. Inilah yang harus dibenahi supaya sistem rujukan bisa lebih efisien," ujar Slamet Riyadi.
Anne Hyre, Chief of Party EMAS menjelaskan, program ini juga memanfaatkan keberadaan teknologi informasi mutakhir mulai dari pesan singkat (SMS) hotline hingga media sosial. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pelayanan kegawatdaruratan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
Menurut Anne, setiap bayi baru lahir juga bisa menghadapi risiko yang sebenarnya dapat diatasi dengan penanganan persalinan sesuai standar, penerapan inisiasi menyusui dini serta perawatan esensial bayi baru lahir.
Diharapkan, 10 jaringan rujukan (Vanguard) akan memberikan dukungan dan mentoring terhadap jaringan berikutnya selama lima tahun hingga sebanyak 150 rumah sakit dan 300 puskesmas/balkesmas baik pemerintah maupun swasta.
( Modesta Fiska / CN33 / JBSM )