panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
10 Februari 2012 | 18:55 wib
Impor Ikan dan Garam Meningkat
Kebijakan Politik Pangan Harus Diubah

 
JAKARTA, suaramerdeka.com – Meningkatnya angka impor ikan, diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini dibuktikan dengan masih ditemukannya sayuran dan ikan impor konsumsi di pasar-pasar tradisional di awal tahun 2012.

"Selain itu, pemerintah juga mengimpor garam sebanyak 700 ribu ton hingga Maret 2012. Kami menyayangkan rencana pemerintah untuk kembali membuka impor garam tahun ini," kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Riza Damanik, Jumat (10/2).

Menurutnya, hal itu patut disayangkan karena rencana impor dilakukan di saat pemerintah-dalam hal ini Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kelautan-belum memiliki data yang solid terkait berapa sesungguhnya ketersediaan dan kebutuhan garam nasional tahun ini.

"Sektor perikanan juga mendapati dampak buruk perubahan iklim. Data KIARA pada Desember 2011 menyebutkan, ada peningkatan dua kali lipat jumlah nelayan yang hilang dan meninggal dunia di laut. Pada tahun 2010, jumlahnya 68 jiwa. Sementara, tahun 2011 bertambah menjadi 149 jiwa," ujarnya.

Jumlah tersebut, kata dia, bertambah menjadi 81 jiwa. Lebih dari itu, selama Januari-Februari 2012, sebanyak 500 ribu keluarga nelayan berhenti melaut akibat cuaca ekstrem. "Perubahan iklim memang menjadi salah satu faktor penghambat ketersediaan pangan. Sebab, di sektor perikanan misalnya, 92 persen kebutuhan domestik untuk pangan perikanan bersumber dari tangkapan dan budidaya ikan nelayan tradisional," imbuhnya.

Karenanya, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk memperbesar kapasitas masyarakat nelayan beradaptasi terhadap perubahan iklim tersebut. Sayangnya, sampai hari ini pemerintah absen melakukannya.

Riza menambahkan, masalah pangan harus segera dikembalikan ke akarnya. Di mana harus ada upaya perombakan kebijakan politik pangan yang selama ini berbasis pada korporasi dan pasar. "Perlu ada perombakan agar ada perlindungan kebutuhan domestik dan kesejahteraan petani dan nelayan. Menyatakan krisis pangan sebagai fenomena global merupakan upaya pemerintah untuk lepas tanggung jawab," tukasnya.

( Saktia Andri Susilo / CN32 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
27 Mei 2012 | 12:09 wib
Dibaca: 24
27 Mei 2012 | 11:50 wib
Dibaca: 67
27 Mei 2012 | 11:30 wib
Dibaca: 142
27 Mei 2012 | 11:15 wib
Dibaca: 140
27 Mei 2012 | 10:59 wib
Dibaca: 193
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER