
JAKARTA, suaramerdeka.com – Meningkatnya angka impor ikan, diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini dibuktikan dengan masih ditemukannya sayuran dan ikan impor konsumsi di pasar-pasar tradisional di awal tahun 2012.
"Selain itu, pemerintah juga mengimpor garam sebanyak 700 ribu ton hingga Maret 2012. Kami menyayangkan rencana pemerintah untuk kembali membuka impor garam tahun ini," kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Riza Damanik, Jumat (10/2).
Menurutnya, hal itu patut disayangkan karena rencana impor dilakukan di saat pemerintah-dalam hal ini Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kelautan-belum memiliki data yang solid terkait berapa sesungguhnya ketersediaan dan kebutuhan garam nasional tahun ini.
"Sektor perikanan juga mendapati dampak buruk perubahan iklim. Data KIARA pada Desember 2011 menyebutkan, ada peningkatan dua kali lipat jumlah nelayan yang hilang dan meninggal dunia di laut. Pada tahun 2010, jumlahnya 68 jiwa. Sementara, tahun 2011 bertambah menjadi 149 jiwa," ujarnya.
Jumlah tersebut, kata dia, bertambah menjadi 81 jiwa. Lebih dari itu, selama Januari-Februari 2012, sebanyak 500 ribu keluarga nelayan berhenti melaut akibat cuaca ekstrem. "Perubahan iklim memang menjadi salah satu faktor penghambat ketersediaan pangan. Sebab, di sektor perikanan misalnya, 92 persen kebutuhan domestik untuk pangan perikanan bersumber dari tangkapan dan budidaya ikan nelayan tradisional," imbuhnya.
Karenanya, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk memperbesar kapasitas masyarakat nelayan beradaptasi terhadap perubahan iklim tersebut. Sayangnya, sampai hari ini pemerintah absen melakukannya.
Riza menambahkan, masalah pangan harus segera dikembalikan ke akarnya. Di mana harus ada upaya perombakan kebijakan politik pangan yang selama ini berbasis pada korporasi dan pasar. "Perlu ada perombakan agar ada perlindungan kebutuhan domestik dan kesejahteraan petani dan nelayan. Menyatakan krisis pangan sebagai fenomena global merupakan upaya pemerintah untuk lepas tanggung jawab," tukasnya.
( Saktia Andri Susilo / CN32 / JBSM )