
SALATIGA, suaramerdeka.com - Kapolda Jateng Inspektur Jendral Didiek Sutomo Triwidodo meminta seluruh jajarannya lebih jeli dan cermat melihat pergerakan Negara Islam Indonesia (NII). Dalam acara paguyuban pimpinan perguruan tinggi se-Jateng bidang kemahasiswaan, di Hotel Grand Wahid Salatiga, Kamis (9/2), dia menuturkan, kini NII telah berganti baju menjadi Masyarakat Indonesia Membangun (MIM).
"Ini sudah masuk ke hampir perguruan tinggi. Ini hasil pengungkapan Polda Jateng," ujar Didiek.
Bahkan, lanjut dia, di beberapa kabupaten dan kota MIM telah terdaftar di Kesbangpolinmas. Namun dirinya menolak merinci daerah mana saja yang dimaksud. Dengan pola seperti itu, menyusahkan polisi melacak. Sebagai bagian dari upaya pengungkapan dan pencegahan, pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat pajak agar membantu aliran dana MIM.
Ditambahkan, penanganan organisasi seperti MIM tidak mudah dilakukan. Pasalnya mereka bukanlah organisasi yang memilih berkonfrontasi langsung dengan aparat serta pemerintah, melainkan memilih cara-cara halus agar tidak terdeteksi.
Didiek menguraikan, gerakan MIM tidak terputus dengan mata rantai NII KW 9 Jateng-Yogya. Gubernur NII KW 9 ini yakni Totok Dwi Hananto alias Mizan Sidiq, 12 Januari lalu divonis lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang atas tuduhan makar. Saat itu, Totok membantah menjadi koordinator NII, melainkan bergabung dengan MIM.
"Seluruh polres sudah saya instruksikan waspada tidak lengah dan lebih cermat lagi. Mereka saya minta tidak asal menandai (sebagai NII atau MIM), namun harus disertai bukti kuat. Gerakan ini dampaknya belum bisa dirasakan sekarang, namun jangka panjang," tandas alumunus Akpol 1978 itu.
Entah kebetulan atau tidak, pernyataan Didiek tentang NII yang malih rupa menjadi MIM, hampir berbarengan dengan pemutaran film dengan Mata Tertutup arahan Garin Nugroho. Film yang diputar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, sehari sebelum pernyataan Didiek itu, menceritakan tentang perekrutan kader NII.
Film yang diangkat dari kisah nyata itu dinubuatkan mengritik diri sendiri, lingkungan, dunia pendidikan, kebobrokan negara dan bangsa, sehingga gerakan seperti NII seperti mendapatkan udara untuk hidup.
( Wahyu Wijayanto / CN32 / JBSM )