
BLORA, suaramerdeka.com - Rencana pengaktifan kembali lapangan terbang (lapter) Ngloram di Kecamatan Cepu Blora semakin mendekati kenyataan. Itu terjadi setelah pemerintah pusat melalui kementerian terkait memberikan sinyal positif reaktivasi lapter yang sudah ada sejak 1981 tersebut.
Kementerian Perhubungan meminta Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) segera mengajukan rencana reaktivasi lapter Ngloram, termasuk alternatif pemanfaatannya untuk training area sekolah penerbangan.
"Beberapa waktu lalu kami diundang mengikuti rapat di Jakarta terkait lapter Ngloram. Hasilnya disampaikan kepada kami seperti itu," ujar Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora, Bondan Sukarno, di ruang kerjanya, Jumat (10/2).
Rapat di Jakarta tersebut menindaklanjuti dua surat yang disampaikan Pemprov Jateng dan Pemkab Bojonegoro Jawa Timur. Pemprov Jateng mempertanyakan reaktivasi lapter Ngloram, sedangkan Pemkab Bojonegoro menyoal rencana pendirian lapangan terbang khusus seiring eksplorasi minyak dan gas (migas) di Blok Cepu.
Pemkab Bojonegoro menghendaki lapter khusus tersebut dibangun di Bojonegoro. Padahal di kawasan Blok Cepu telah ada lapter Ngloram. Tarik ulur pun sempat terjadi antara Pemkab Blora dan Pemkab Bojonegoro. Kedua daerah itu menghendaki lapter di kawasan Blok Cepu berada di daerahnya.
Namun jika mengacu hasil rapat di Jakarta tersebut, pemerintah pusat cenderung lebih merestui lapter berada di Cepu. Pasalnya lahannya sudah ada. Sementara di Bojonegoro pembangunan lapter membutuhkan lahan baru yang memakan kawasan hutan Perhutani.
Menurut Bondan Sukarno, selain rekomendasi terkait lapter Ngloram, ada beberapa poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan di Kementerian Perhubungan tersebut. Di antaranya Pemkab Bojonegoro diminta menyampaikan kajian lebih lanjut tentang tata ruang udara bandara yang diusulkan, mengingat jarak antara lapter khusus Bojonegoro dengan lapter Ngloram Cepu hanya berjarak sekitar 40 kilometer.
( Abdul Muiz / CN26 / JBSM )