
KARANGANYAR, suaramerdeka.com - Masyarakat Agrobisnis Jamur Indonesia (MAJI) Kabupaten Karanganyar mengeluhkan jatuhnya harga jamur, akhir-akhir ini. Sejak tiga bulan ini, harga jamur kuping kering yang semula Rp 50 ribu/kilogram, anjlok menjadi Rp 30 ribu-Rp 35 ribu/kilogram. Turun drastisnya harga itu dikarenakan banyaknya stok yang membanjiri pasaran, sedangkan permintaan hanya sedikit.
"Saat ini para petani jamur merasa kebingungan bagaimana menjual jamur dengan harga yang jatuh seperti sekarang ini. Kami tidak bisa menyimpannya karena pasti rusak, tapi kalau dijual harganya jatuh," keluh Giyatno, Ketua MAJI Kabupaten Karanganyar.
Di MAJI Kabupaten Karanganyar sendiri tergabung ratusan petani jamur. Bila harga jamur tak kunjung membaik, imbuhnya, hal itu bisa mengancam keberadaan sekitar 200 petani jamur. Pasalnya, mereka pasti tidak akan mau budidaya jamur lagi, sebab hasil yang didapat tidak seimbang dengan biaya yang dikeluarkan. "Dengan harga Rp 30 ribu-Rp 35 ribu/kilogram di pasaran, kemungkinan banyak petani yang rugi," tandasnya.
Petani jamur Karanganyar sendiri dalam sebulan rata-rata bisa memproduksi sekitar lima ton, di mana hasil panennya dilempar ke daerah Jawa Barat, khususnya Bandung yang memang pasar potensial bagi jamur kuping kering Karanganyar, sebab di sana permintaannya masih tinggi.
Selain membudidayakan jamur kuping, petani jamur di Karanganyar juga ada yang membudidayakan jamur tiram. Giyatno mengungkapkan, untuk petani pemula sebaiknya memang membudidayakan jamur tiram, sebab stok di pasaran masih kurang dan harganya selalu stabil serta setiap hari bisa panen.
Sriyanto (56) seorang petani jamur yang tinggal di Desa Ngringo, Kecamatan Jateng juga mengeluhkan jatuhnya harga jamur. Hal itu menurut Sriyanto membuat para petani seperti dirinya merugi. "Saat ini harga jamur memang sedang anjlok karena stok di pasaran melimpah," tegas dia ketika ditemui.
( Basuni Hariwoto / CN31 / JBSM )