
SEMARANG, suaramerdeka.com - Distribusi elpiji tiga kilogram dengan sistem tertutup yang akan diberlakukan di Kota Semarang rawan terjadi kelangkaan. Diharapkan, uji coba distribusi elpiji tertutup ini tepat sasaran sebagai langkah pengendalian tingginya konsumsi masyarakat atas tabung gas elpiji tiga kilogram yang disubsidi pemerintah.
Menurut Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Kota Semarang, Ngargono, sistem distribusi elpiji tertutup ini diterapkan untuk pengisian dan penjualan elpiji khusus tiga kilogram. Agen elpiji di satu wilayah hanya bisa mengisi elpiji di stasiun yang ada di wilayah itu.
Agen tersebut hanya diperkenankan mendistribusikan elpiji di wilayah yang sudah ditetapkan. Masyarakat yang berasal dari luar daerah tidak bisa lagi menikmati kuota elpiji di Kota Semarang. "Yang perlu diperhatikan dari uji coba ini adalah bagaimana konsumsi elpiji tiga kilogram itu tepat sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, ketersediaan barang harus tetap dijamin," ungkapnya, Rabu (8/2).
Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Jateng-DIY, Pramudyas Hidayat Setyawan menyatakan, konsumsi elpiji sekarang ini sudah melebihi dari kuota yang ditetapkan pemerintah. Tercatat tahun ini kuota distribusi elpiji tiga kilogram di Jateng sebanyak 5,6 juta tabung.
Pada akhir tahun lalu sudah terjadi kelebihan konsumsi 1%. Begitu juga di DIY dari kuota sebanyak 4,9 juta tabung, konsumsinya sudah kelebihan 3%. Sementara berdasarkan data dari PT Pertamina Jateng-DIY, konsumsi elpiji di Jateng rata-rata mencapai 1.787 metrix ton per hari.
"Namun pelaksanaan distribusi tertutup ini masih menemui kendala. Yaitu, menyangkut kesiapan agen maupun pangkalan elpiji tiga kilogram. Meski demikian, langkah pengendalian ini harus dilakukan mengingat bahwa konsumsi elpiji tiga kilogram sudah melebihi dari kuota yang sudah ditetapkan pemerintah," pungkasnya.
( Fista Novianti / CN31 / JBSM )