
TERUS MEMBANGUN: Sejumlah pekerja terlihat membangun kios di Jalan Taman Siswa, Sekaran, Gunungpati Semarang, Rabu (8/2). (suaramerdeka.com/Ranin Agung)
GUNUNGPATI, suaramerdeka.com - Keberadaan mahasiswa yang melakukan studi di wilayah Sekaran Gunungpati Semarang dipandang memberikan berkah tersendiri bagi warga sekitar kampus. Secara tidak langsung mereka mendapatkan penghasilan dari menyewakan kos atau kontrakan, berdagang, dan usaha jasa seperti rental, dan laundry.
Terlepas dari pesatnya perkembangan di sekitar kampus menjadikan lingkungan menjadi kumuh pada beberapa titik.
Abu Khoeri (50) warga RT 1 RW 4 Kelurahan Patemon mengatakan, sikap warga yang kurang peduli terhadap lingkungan diketahui sudah berlangsung lama dan kembali dilakukan oleh warga pendatang yang membuka usaha di wilayah Banaran, Sekaran, dan Patemon.
Tertutupnya sebagian besar selokan untuk lahan parkir menuju tempat usaha menimbulkan bau tidak sedap. Selain menimbulkan bau, pembersihan selokan pun sulit dilakukan mengingat warga menutup selokan bersambung dengan mengecor permanen. "Kami sudah menghimbau melalui rapat musyawarah warga, namun tetap saja tidak digubris," katanya, Rabu (8/2).
Senada dengan Abu, Muhammad Khasan (22) mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Asing mengungkapkan, selokan di kedua bahu Jalan Taman Siswa atau jalan putar lintas Kampus Unnes Sekaran akan meluap saat hujan lebat. Luapan tersebut membawa sampah dan material tanah bercampur kerikil sehingga jalan menjadi kotor dan berbahaya untuk dilalui. "Air selokan mengalir ke jalan bila hujan lebat, tipikal jalan yang cenderung menurun menuju kampus membuat kecepatan air bertambah," ungkapnya.
Camat Gunungpati Bambang Supono mengatakan, saluran di lingkungan kampus tepatnya di sekitar Banaran memang diketahui tersumbat. Untuk mengatasinya, pihak telah mengirimkan surat ke Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA dan ESDM) Kota Semarang guna dilakukan penanganan.
( Ranin Agung / CN32 / JBSM )