
BOYOLALI, suaramerdeka.com - Tingginya harga gabah ternyata tidak bisa dinikmati para petani di Boyolali. Pasalnya kualitas panen anjlok sehingga harga tebasan rendah. Kondisi ini diperparah dengan cuaca mendung sepanjang hari.
Menurut Warjiman (55) petani asal Dukuh Peni, Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono, harga tebasan kini hanya berkisar Rp 3 juta- Rp 3,5 juta/ pathok. Yaitu, untuk sawah dengan ukuran luas 2.500 m2 – 2.750 m2. Padahal, dua bulan lalu harga tebasan masih tinggi, antara Rp 7 juta- Rp 8,5 juta/ pathok. Penyebabnya, kualitas hasil panen anjlok.
Saat musim penghujan, hasil panen tidak bisa maksimal karena tingginya curah hujan. Bahkan, tanaman padi ambruk sehingga bulir padi terendam air. Akibatnya, sebagian gabah membusuk. Petani juga kesulitan menjemur gabah hasil panen karena hujan atau mendung sepanjang hari.
Padahal, bila gabah tidak segera kering maka bisa mempengaruhi kualitas gabah. “Beras nantinya bisa kunyit atau berwarna kekuningan sehingga harga jual rendah,” katanya, Rabu (8/2).
Hal senada juga dikatakan Widadi (57) petani asal Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono. Menurutnya, para petani kini gigit jari. Hasil panen anjlok karena terlalu banyak curah hujan. Selain itu, para penebas juga enggan membeli padi siap panen di sawah.
Selain karena alasan hasil panen anjlok, juga kesulitan untuk mengeringkan gabah. “Karena tak ada penebas, maka terpaksa saya panen sendiri. Ya repot, karena cuaca sering mendung, beruntung dua hari terakhir agak cerah.”
Terpisah, Ciptono (50) perantara penebas mengakui, anjloknya harga padi siap panen. Alasannya jelas, anjloknya kualitas panen sehingga berdampak pada rendeman gabah. Dijelaskan, saat ini rendeman hanya berkisar 25 persen – 30 persen.
Dicontohkan, untuk setiap 1 kuintal padi yang dipanen, setelah dirontok dan dikeringkan hanya mampu menghasilkan gabah seberat 25 – 30 kg. “Padahal, panen saat musim kemarau rendeman bisa mencapai 40 persen,” ujarnya.
( Joko Murdowo / CN26 / JBSM )