
BLORA, suaramerdeka.com - Dinas Pertanian Blora ingin mengubah paradigma pemeliharaan tanaman padi. Selama ini jika tanaman padi diserang hama dan penyakit, maka upaya pengendalian dikedepankan. Semestinya sejak awal dalam budidaya padi lebih mengedepankan perlindungan tanaman.
"Jadi, hama dan penyakit padi bisa dicegah. Bukan baru ada aksi jika hama itu sudah menyerang," ujar Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan (Dispertanbunnakikan) Blora, Sutikno Slamet, Rabu (8/2).
Dia mengatakan, untuk menerapkan paradigma itu diperlukan sejumlah perangkat. Salah satunya petugas Pengamat Hama dan Penyakit (PHP). Hanya saja jumlah petugas PHP tidak sebanding dengan luas wilayah di Blora. PHP yang ada sebanyak 10 orang. Sementara kecamatan di Blora ada 16 kecamatan.
Padahal keberadaan petugas PHP itu dinilai penting antara lain untuk antisipasi sekaligus pencegahan hama dan penyakit tanaman terutama tanaman padi. "Wilayah Blora cukup luas. Bayangkan saja satu orang PHP mengampu sejumlah desa di satu kecamatan. Karena jumlahnya minim, akhirnya satu orang PHP tugasnya bisa merangkap di dua kecamatan," tandasnya.
Sutikno Slamet mengungkapkan petugas PHP bukan pegawai Distanbunnakikan maupun pegawai Pemkab Blora. Mereka diperbantukan oleh pemerintah pusat ke daerah. Karena merasa kurang, Sutikno Slamet mengharapkan pemerintah menambah petugas PHB di Blora.
"Ya paling tidak dalam satu kecamatan terdapat satu orang petugas PHP meskipun itu belum ideal mengingat luasnya wilayah kerja hingga ke pelosok desa," tandasnya.
Sutikno Slamet mengemukakan di setiap kali musim tanam padi, serangan hama dan penyakit rentan terjadi. Di Blora saja, kata dia, saat ini ratusan hektar padi berpotensi terserang hama dan penyakit jenis tertentu. Jika tidak segera ditangani, hama dan penyakit tanaman bakal menyebar ke ribuan hektar tanaman padi.
( Abdul Muiz / CN26 / JBSM )