
TUMPANG SARI: Tanaman jagung yang berada di kawasan hutan jati di Blora. (suaramerdeka.com / Abdul Muiz)
BLORA, suaramerdeka.com - Perhutani memberikan kesempatan pada para petani hutan (pesanggem) untuk menggarap lahan hutan melalui budidaya tanaman pangan. Kegiatan itu guna menyukseskan gerakan peningkatan produksi pangan berbasis korporasi (GP3K) yang merupakan program nasional.
Dalam pengelolaan lahan itu, petani diminta menggunakan pupuk nabati yang ramah lingkungan. Potret keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lahan hutan salah satunya dapat dilihat di petak 53 RPH Pucung BKPH Pucung KPH Randublatung, Blora. Pada lokasi tersebut terdapat pohon jati plus Perhutani yang ditumpangsari dengan tanaman jagung seluas 8,2 hektare.
Tanaman itu tumbuh subur karena keuletan penggarap dan kepiawaian petugas Perhutani dalam memfasilitasi kebutuhan akan lahan pertanian bagi warga Desa Banglean yang tergabung dalam LMDH Wana Sumber Rejeki.
Menurut Asper KBKPH Pucung, Ence Sunarya, pelibatan masyarakat dalam kegiatan tanam tahun ini mempunyai beberapa kepentingan baik bagi Perhutani sendiri maupun bagi masyarakat desa hutan. Ence mengemukakan, pelibatan masyarakat itu antara lain guna menyukseskan GP3K.
"Selain itu juga kepentingan pengamanan hutan secara tidak langsung, karena pada lokasi tanaman warga terdapat tegakan jati tua," ujarnya, didampingi Humas Perhutani Randublatung, Andan Subiyantoro Rabu (8/2).
Dikemukakannya, dalam pengamanan hutan diperlukan langkah sosial. Dengan memberi kesempatan pesanggem menggarap lahan hutan, mereka juga akan turut serta dalam pengamanan kayu-kayu yang ada di hutan. ‘’Di sisi lain kami juga tetap melakukan langkah bijaksana yaitu melarang mereka menggunakan bahan beracun berbahaya yang dilarang pemakaiannya di kawasan hutan," tandasnya.
Ence Sunarya menjelaskan upaya peningkatan produksi pangan dengan menggunakan pupuk cair nabati dicontohkan dalam demplot kepada beberapa pesanggem. Setelah kelihatan hasilnya, petani hutan yang ada di petak tersebut akhirnya mau menggunakan pupuk cair nabati.
Menurutnya pupuk cair digemari oleh para penggarap dalam kawasan hutan, karena disamping praktis penggunaannya, harganya pun terjangkau. Hasilnya juga menjajikan selain itu ramah lingkungan.
( Abdul Muiz / CN26 / JBSM )