
REMBANG, suaramerdeka.com – Nelayan tradisional perairan dangkal di Kabupaten Rembang tengah menikmati panen udang rebon dalam tiga hari terakhir. Cuaca yang cukup bagus membuat nelayan mampu turun ke laut hingga dua kali sehari.
Nardi (50), nelayan Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori menuturkan, nelayan biasanya menjaring udang rebon sejak pukul 03.00 dini hari hingga pukul 07.00 pagi. Mereka menggunakan alat tangkap jaring jenis waring. Jika cuaca memungkinkan, mereka akan menjaring udang rebon lagi mulai pukul 08.00 pagi.
“Sekali melaut sedikitnya mendapatkan udang rebon hingga 5 kati (satu kati setara enam ons). Oleh nelayan udang rebon tidak dijual langsung, melainkan diolah menjadi terasi,” jelasnya, Rabu (8/1).
Pengolahan udang rebon menjadi terasi dilakukan secara tradisional oleh para istri nelayan. Udang rebon ditumbuk menggunakan alu, kemudian dijemur hingga kering. Proses tersebut diulang dua kali. Biasanya, terasi kualitas bagus terbentuk setelah dua hari pemrosesan.
Setelah jadi, terasi kemudian dibungkus menggunakan daun pisang. Harga jual terasi di tingkat pembuat berkisar Rp 11 ribu per bungkus. Di tingkat pedagang, harganya naik menjadi Rp 13.000/bungkus. “Harga terasi mulai menurun sejak panen udang rebon berlangsung. Bulan lalu harga terasi masih Rp 15.000/bungkus,” jelas Maryono (60), nelayan lainnya.
Musim panen udang rebon ini memang telah ditunggu-tunggu para nelayan, terutama yang tidak memiliki perahu sendiri. Sebab untuk menjaring rebon, nelayan cukup menyisir pantai sedalam sekira satu setengah meter menggunakan jaring jenis waring.
( Saiful Annas / CN26 / JBSM )