
YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Kalangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Yogyakarta meminta pemerintah melakukan kajian ulang, terkait rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 10 persen.
Kebijakan itu akan memberikan pengaruh besar terhadap kelangsungan industri, mulai dari sektor hulu sampai hilir. "Otomatis akan berpengaruh. Kami paham ini situasi yang dilematis, tapi jangan sampai merugikan banyak pihak," tandas Ketua Kadin Kota Yogyakarta Aji Karnanto ketika dikonfirmasi, hari ini.
Dia menilai, keputusan menaikkan TDL secara serta-merta merupakan langkah yang kurang bijak. Terlebih, kondisi dunia usaha baru saja memasuki fase stabil setelah terhantam krisis ekonomi global.
Alasan pemerintah yang mengklaim tarif listrik Indonesia masih lebih rendah dibanding negara lain di kawasan Asean, menurut Aji, hal tersebut kurang relevan.
"Tidak bisa hanya dipandang dari segi ini saja. Banyak aspek yang perlu dikaji lagi, termasuk tingkat kemampuan daya beli masyarakat," kata pengusaha yang juga menjabat Ketua Umum DPD Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) DIY ini.
Dia berharap agar dalam pembahasan yang menyangkut kebijakan industri, pihak Kadin bisa dilibatkan.
Aji menambahkan, beban pelaku usaha lokal sudah berat dengan membanjirnya produk buatan Cina. Harga produk asal Cina yang lebih murah menjadikan pengusaha nasional sulit bersaing.
Situasi ini masih ditambah persoalan upah minimum kota/kabupaten (UMK), yang kerap menimbulkan polemik. "Banyak permasalahan yang kami hadapi. Jika pemerintah tetap bersikukuh menaikkan TDL, beban pengusaha akan semakin berat," tandasnya.
( Amelia Hapsari / CN32 / JBSM )