
SEMARANG, suaramerdeka.com - Menghadapi perlambatan permintaan dari negara Eropa dan Amerika, tahun ini para pengusaha mebel akan fokus ke pasar China. Sejauh ini ekspor ke China masih sangat kecil, sementara potensi pasarnya terbilang luar biasa.
Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jateng Anggoro Ratmadiputro mengatakan, pangsa pasar mebel di China mampu menyumbang 10 persen dari total ekspor mebel Indonesia.
Daya beli masyarakat China yang cukup tinggi, membuat produk-produk mebel buatan tangan dari Indonesia banyak diminati kalangan menengah atas di sana.
"Pasar menengah atas di sana sangat suka dengan model dan jenis mebel yang tidak pasaran seperti mebel dari indonesia yang dikerjakan secara hand made, bukan oabrikan. Apalagi dengan kerajinan seperti ukir-ukiran yang melambangkan shio, disana banyak dicari," katanya, hari ini.
Menurutnya, meski China adalah raja untuk mebel knock down, namun disana sangat minim mebel dari kayu. Sebab harga kayu di negara tirai bambu tersebut sangat mahal, dan kualitas tidak sebagus kayu Indonesia. "Untuk mebel perkantoran, China memang jagonya karena teknologi yang dimiliki sudah canggih. Tapi untuk mebel ukiran, China kalah dengan Indonesia," tuturnya.
Karena itu saat ini kalangan pengusaha mebel di Jateng berencana untuk mendirikan ruang pamer di China. Sebab untuk melebarkan sayap ke China, dibutuhkan ruang pamer khusus berukuran besar dan bersifat permanen. "China serius menggarap perdagangan mebel. Di sana banyak bermunculan mal-mal besar, yang diperuntukkan khusus untuk mebel. Karena itu kami minta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng untuk memfasilitasi sekaligus bantuan dana," ujarnya.
( Fani Ayudea / CN32 / JBSM )