
BOYOLALI, suaramerdeka.com - Pada musim penghujan kali ini, tak hanya nelayan di laut saja yang mengalami masa paceklik. Para nelayan Waduk Kedungombo (WKO) Kecamatan Kemusu pun mengalami hal serupa. Kondisi tersebut disebabkan cuaca ekstrem berkepanjangan.
Menurut Khasan (56) nelayan asal Desa Bawu, masa paceklik sudah dirasakan sejak tiga minggu terakhir. Biasanya, dia mampu memperoleh ikan minimal 4 kg/ hari, namun kini maksimal hanya mampu mendapatkan ikan sebanyak 1,5 kg. Ikan diperoleh dengan cara menebarkan jalan ke perairan waduk dari atas perahu. "Ikan seperti menghilang, mas," katanya, Senin (6/2).
Jenis ikan seperti mujahir dan tawes sulit diperoleh. Tak hanya itu saja, sebagian nelayan juga tidak berani menjaring ikan hingga ke tengah perairan waduk. Pasalnya, cuaca sulit diprediksi dan angin bertiup kencang disertai hujan deras. Sebagian besar nelayan memilih menjaring di kawasan pinggir waduk. "Bahkan, banyak yang menjaring di aliran Sungai Braholo," tambahnya.
Senada, Senen (59), nelayan lain menambahkan, masa panen raya ikan terjadi di awal-awal musim penghujan. Saat itu terjadi arus balik sehingga banyak ikan yang berlindung ke muara sungai. Para nelayan bisa mendapatkan ikan hingga 10 kg/ hari. Mereka pun tidak kesulitan menjual ikan hasil tangkapan karena para bakul sudah menunggu di pinggir waduk.
"Berapapun ikan yang diperoleh dibeli semua. Kini setelah masa panen berakhir, bakul pun tidak datang, penjualan ikan dilakukan di pasar desa setempat dengan harga Rp 15.000- 20.000/ kg," ungkapnya.
Kondisi ini diperparah dengan merebaknya ikan red devil. Ikan tersebut menjadi predator ikan di kawasan perairan waduk. Akibatnya, ikan-ikan yang sering ditangkap untuk konsumsi manusia pun berkurang jumlahnya.
( Joko Murdowo / CN33 / JBSM )