
SEMARANG, suaramerdeka.com - Pakar hidrologi Universitas Diponegoro (Undip), Dr Ir Robert Y Kodoatie MEng mengatakan, penurunan tanah di Semarang terutama di kawasan bagian utara itu disebabkan karena proses konsolidasi. Konsolidasi adalah peristiwa mampatnya tanah karena menderita tambahan tekanan efektif.
Selain itu, proses tersebut juga dipengaruhi oleh jenis tanah yang ada di wilayah itu. "Kalau tanah di Semarang bagian Utara sendiri jenisnya aluvial yang rapat dengan air dan merupakan produk sedimentasi gunung Merapi serta bersifat sangat kompresibel, sehingga penurunan bisa terjadi bertahun-tahun," ungkapnya.
Lebih lanjut dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Undip ini menjelaskan, bahwa sekarang ini dalam setahun tanah di daerah Bandara Ahmad Yani sampai kawasan PRPP tanah turun 3,4 cm sampai 7,6 cm, Tanah Mas turun 5 cm, kawasan Pelabuhan Tanjung Emas 7,7 cm. Kemudian, lebih parah lagi di Tambaklorok penurunannya capai 11 cm dan Pengapon 8,5 cm.
"Maka butuh waktu sekitar 10 tahun untuk mengakhiri proses konsolidasi sehingga tanah benar-benar mampat. Sebab, konsolidasi akan berhenti pada kedalaman sekitar 4 meter," tutur Robert.
Penurunan tanah ini akan menjadi lebih cepat jika diperburuk kondisi lingkungan, seperti pembangunan gedung-gedung bertingkat dan pengambilan air bawah tanah (ABT). Dengan demikian, warga di sekitar daerah penurunan tanah diharapkan lebih mengantisipasi.
"Jika sekedar disuruh pindah dari tempat tinggalnya tentu saja tidak bisa karena masyarakat budayanya sudah di sana. Maka solusinya, mengatur upaya pengerukan untuk meninggikan rumah secara bersama-sama dengan pemerintah," katanya.
( Anggun Puspita / CN31 / JBSM )