
SOLO, suaramerdeka.com - Masyarakat Solo masih lebih senang bertransaksi menggunakan uang tunai dibanding non-tunai. Hal ini dibuktikan dengan peredaran uang tunai yang mencapai Rp 8 triliun per tahun atau setara dengan 18 persen total uang yang beredar di Solo.
Pimpinan Kantor Bank Indonesia (BI) Solo, Doni P Joewono menyebut, dalam setahun uang senilai Rp 51 triliun beredar di tengah masyarakat. Sebesar 82 persen sisanya atau sekitar Rp 43 triliun beredar di masyarakat dengan cara non-tunai. Baik melalui Real Time Gross Settlement (RTGS) atau kliring.
"Walaupun secara jumlah peredaran uang tunai lebih sedikit dibanding non-tunai, namun prosentase tersebut jauh dari ideal. Idealnya peredaran uang tunai dalam suatu wilayah di bawah angka 1 persen," papar dia.
Doni menambahkan, biaya mencetak uang kertas sangat tinggi. Di sisi lain, uang kertas mudah rusak atau hilang. Sementara itu, keberadaan uang logam juga tidak lepas dari masalah. Pihaknya banyak menerima komplain dari ritel serta pom bensin lantaran keterbatasan bank dalam penukaran receh.
"Di negara lain banyak ditemukan vending machine (mesin penjual otomatis) karena itu keberadaan uang receh masih bermanfaat," imbuh dia.
Karena itu, dia menilai, masyarakat harus dibiasakan untuk melakukan transaksi non-tunai untuk efisiensi pencetakan uang. Salah satunya adalah dengan mendorong perbankan untuk menggencarkan produk e-money.
Dia menilai cara tersebut bisa ditempuh untuk secara perlahan dalam tahap konversi uang kartal menjadi uang giral. "Kami, Bank Indonesia tidak memiliki produk khusus sehingga tidak bisa secara langsung menekan peredaran uang tunai. Kewenangan BI hanya sebatas mendorong dan membuat regulasi. Karena itu, perbankan yang punya peranan lebih besar dalam hal ini," ucap dia.
( Astuti Paramita / CN31 / JBSM )