
JAKARTA, suaramerdeka.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan saranan dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Bantuan senilai Rp21,5 miliar ini untuk mendorong pembangunan di sektor kelautan dan perikanan di Sulawesi Barat (Sulbar).
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C sutardjo menyerahkan bantuan kepada masyarakat nelayan dan petambak Sulawesi Barat. Ada 16 program bantuan yang diberikan. "Diantaranya adalah pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) pengolahan yang nilainya mencapai sekitar Rp2,3 miliar," katanya dalam siaran persnya di Jakarta, Sabtu (4/2).
Selain PUMP, bantuan yang diberikan juga berupa enam unit bantuan kapal Inka Mina, 30 paket sarana perikanan tangkap, dua unit rumah ikan, bantuan budidaya rumput laut berupa depo, 50 unit cool box, speed boat serta satu unit excavator.
Sharif berharap bantuan tersebut dapat memberi kemudahan bagi nelayan. Sehingga nelayan dapat melaksanakan usaha perikanan baik tangkap maupun budidaya dengan baik. Bantuan tersebut besar manfaatnya dalam upaya peningkatan produksi perikanan serta kesejahteraan nelayan yang selama ini masih dirasakan kurang. Lebih lanjut, untuk mendukung kesejahteraan para nelayan, Sharif juga menyerahkan bantuan berupa sarana air bersih, paket bantuan belajar anak pelaku utama, sertifikat hak atas tanah nelayan (sehat) dan 10.000 kartu nelayan.
Sementara itu, dalam merealisasikan program pengembangan sarana infrastruktur Pelabuhan Perikanan Nasional (PPN) skala B di Kabupaten Majene Sulbar, Sharif menyerahkan bantuan tahap awal berupa Masterplan dan detail desain PP Palipi senilai Rp21 juta kepada Pemprov Sulawesi Barat.
Dikatakannya, Proyek PPN Palipi Majene diperkirakan memakan biaya sebesar Rp600 miliar. Anggaran tersebut 10 persennya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), selebihnya dari Islamic Development Bank (IDB). IDB merupakan bank korporate negara negara Islam. Lembaga ini juga akan menyumbang anggaran pembangunan PPN di Majene.
Menurutnya, pelabuhan ikan di Sulawesi Barat itu akan dilengkapi sejumlah fasilitas seperti ruang pendingin agar ikan nelayan yang ditampung awet dan menjadi salah satu tempat transaksi ikan terbesar di daerah ini. Oleh karena itu, dengan dibangunnya pabrik pengolahan ikan yang berdekatan dengan PPN Palipi maka akan dapat membangun industri perikanan di Sulbar. “Dengan dibangunnya pabrik pengolahan ikan di perairan sulbar, maka akan dapat meminimalisir pencurian ikan di perairan Sulbar oleh nelayan dari daerah lain seperti Kalimantan, karena ikan diperairan Sulbar akan maksimal ditangkap nelayan untuk dibawa ke pabrik pengolahan ikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ikan akan maksimal ditangkap para nelayan untuk dibawa ke pabrik pengolahan ikan, karena memiliki nilai jual tinggi sehingga nelayan akan giat bekerja menangkap ikan untuk kesejahterannya. Pelabuhan Perikanan Nasional (PPN) ini diharapkan menjadi pelabuhan ekspor ikan terbesar di Sulbar yang akan dikirim ke mancanegara seperti Jepang, China dan Korea dikarenakan permintaan dari negara itu cukup tinggi. “Saat ini Indonesia memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara ( Archipelagic Fishing Port) sebanyak 14 unit yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” tambahnya.
( RED , Rifki / CN34 )