
DAMASKUS, suaramerdeka.com - Para aktivis melaporkan, bentrokan terakhir yang terjadi antara pasukan pemerintah dan pemberontak menewaskan lebih dari 200 jiwa dan menyebabkan ratusan lainnya terluka di Kota Homs, Suriah.
Sekitar 140 jiwa di antaranya ditemukan tewas di wilayah Khaldiyeh. "Ini adalah serangan terburuk sejak awal demonstrasi anti-Assad digelar pada Maret tahun lalu," ujar pengamat dari komisi pemantau hak asasi manusia yang berpusat di London, Rami Abdul Rahman, Sabtu, (4/2).
Sebelumnya, Jumat 3 Februari kemarin, insiden mematikan juga terjadi di antara pasukan pemerintah dan pemberontak di pinggiran Kota Damaskus dan di bagian selatan negara itu. Bentrokan ini menewaskan 23 jiwa termasuk di antaranya sembilan pasukan pemerintah.
Serangan di Kota Homs ini terjadi ketika pada saat yang bersamaan Dewan Keamanan PBB tengah menyiapkan sebuah rancangan resolusi bagi Suriah. Resolusi ini ditujukan untuk mendesak Presiden Assad menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya guna menghentikan kekerasan di negara itu.
AS sendiri dilaporkan tidak akan mengambil upaya militer apapun terkait krisis Suriah. Namun AS menegaskan, pihaknya mendukung inisiatif negara-negara Liga Arab yang menyerukan Presiden Assad mundur dari jabatannya.
Berbeda dengan Barat, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov menegaskan, Moskow tidak akan mendukung resolusi apapun yang ditujukan ke Suriah. "Rusia optimis, kesepakatan damai akan tercapai," imbuhnya.
( OKZ / CN31 )