panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
04 Februari 2012 | 07:55 wib
Inkonsistensi Nilai-Nilai Pancasila Pada Anak

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Peneliti Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM Surono menuturkan bahwa saat ini telah terjadi inkosistensi dalam proses internalisasi nilai-nilai Pancasila pada anak-anak. Pasalnya, nilai-nilai kebaikan Pancasila diajarkan dengan setengah hati dan tanpa keteladanan. Penanaman nilai-nilai Pancasila masih dalam tataran kognisi belum sepenuhnya mampu menyentuh level afeksi maupun psikomotorik.

Dari hasil penelitian berjudul ''Internalisasi Nilai-nilai Pancasila pada Anak Melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Studi Kasus PAUD Non Formal di Yogyakarta'' yang dilakukannya diketahui bahwa sebagian besar pola pendidikan PAUD masih terfokus pada upaya untuk menumbuhkan kecerdasan kognitif. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor kualitas sumberdaya manusia dalam hal ini adalah tenaga pengajar.

''Dalam kegiatan belajar mengajar, para pengajar cenderung bertindak sesuka hati, asal memenuhi kewajiban saja. Hal ini memang tidak dapat disalahkan, karena mereka hanya diberi honor Rp 5.000 sekali datang. Yang menjadi persoalan berikutnya adalah untuk urusan pembangunan karakter bangsa kok cuma seharga 5.000 perak,'' ujarnya di PSP UGM.

Dia menyebutkan satu kasus ditemukan pada sebuah lembaga PAUD non-formal yang sedang melakukan upaya internalisasi nilai-nilai religiusitas. Ketika salah seorang guru PAUD memimpin doa, pada saat yang bersamaan, guru-guru yang lain justru sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. ''Hal seperti ini jelas sekali menunjukkan sebuah kontradiksi.

Pada satu sisi, para guru ingin menanamkan nilai-nilai religiusitas, akan tetapi di sisi lain tidak ada keteladanan yang bisa memperkuat dan meyakinkan pada anak-anak bahwa berdoa itu adalah upaya meminta kepada Tuhan pencipta alam, sehingga harus dilakukan dengan khusyuk. Anak-anak diajarkan agar bersikap baik dan khusyuk dalam berdoa, tetapi para guru dan pegawai justru menunjukkan sikap sebaliknya,'' paparnya.

Disampaikannya bahwa kedepan perlu adanya evaluasi kritis terhadap visi, misi, dan pilar kebijakan PAUD di Indonesia agar jenjang PAUD bisa mencapai tujuan pendidikan asional. Selain itu juga mendesain PAUD sebagai pondasi pendidikan untuk semua, melakukan penambahan materi yang berkaitan dengan nilai-nilai ke-Pancasilaan dan kebangsaan, serta meningkatkan kualitas dan penyamaan persepsi SDM PAUD.

( Bambang Unjianto / CN34 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
27 Mei 2012 | 13:40 wib
Dibaca: 93
27 Mei 2012 | 13:20 wib
Dibaca: 217
27 Mei 2012 | 13:05 wib
Dibaca: 101
27 Mei 2012 | 12:54 wib
Dibaca: 189
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER