
YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Peneliti Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM Surono menuturkan bahwa saat ini telah terjadi inkosistensi dalam proses internalisasi nilai-nilai Pancasila pada anak-anak. Pasalnya, nilai-nilai kebaikan Pancasila diajarkan dengan setengah hati dan tanpa keteladanan. Penanaman nilai-nilai Pancasila masih dalam tataran kognisi belum sepenuhnya mampu menyentuh level afeksi maupun psikomotorik.
Dari hasil penelitian berjudul ''Internalisasi Nilai-nilai Pancasila pada Anak Melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Studi Kasus PAUD Non Formal di Yogyakarta'' yang dilakukannya diketahui bahwa sebagian besar pola pendidikan PAUD masih terfokus pada upaya untuk menumbuhkan kecerdasan kognitif. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor kualitas sumberdaya manusia dalam hal ini adalah tenaga pengajar.
''Dalam kegiatan belajar mengajar, para pengajar cenderung bertindak sesuka hati, asal memenuhi kewajiban saja. Hal ini memang tidak dapat disalahkan, karena mereka hanya diberi honor Rp 5.000 sekali datang. Yang menjadi persoalan berikutnya adalah untuk urusan pembangunan karakter bangsa kok cuma seharga 5.000 perak,'' ujarnya di PSP UGM.
Dia menyebutkan satu kasus ditemukan pada sebuah lembaga PAUD non-formal yang sedang melakukan upaya internalisasi nilai-nilai religiusitas. Ketika salah seorang guru PAUD memimpin doa, pada saat yang bersamaan, guru-guru yang lain justru sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. ''Hal seperti ini jelas sekali menunjukkan sebuah kontradiksi.
Pada satu sisi, para guru ingin menanamkan nilai-nilai religiusitas, akan tetapi di sisi lain tidak ada keteladanan yang bisa memperkuat dan meyakinkan pada anak-anak bahwa berdoa itu adalah upaya meminta kepada Tuhan pencipta alam, sehingga harus dilakukan dengan khusyuk. Anak-anak diajarkan agar bersikap baik dan khusyuk dalam berdoa, tetapi para guru dan pegawai justru menunjukkan sikap sebaliknya,'' paparnya.
Disampaikannya bahwa kedepan perlu adanya evaluasi kritis terhadap visi, misi, dan pilar kebijakan PAUD di Indonesia agar jenjang PAUD bisa mencapai tujuan pendidikan asional. Selain itu juga mendesain PAUD sebagai pondasi pendidikan untuk semua, melakukan penambahan materi yang berkaitan dengan nilai-nilai ke-Pancasilaan dan kebangsaan, serta meningkatkan kualitas dan penyamaan persepsi SDM PAUD.
( Bambang Unjianto / CN34 / JBSM )