
JAKARTA, suaramerdeka.com - Di tengah keragaman dan kemajemukan, sikap saling menghormati dan bertenggang rasa di antara sesama warga bangsa harus tetap dikedepankan. Tidak boleh ada penggunaan kekerasan hanya karena perbedaan.
"Tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih penting. Sebesar apapun perbedaan kita sebagai manusia, kita tidak boleh menyebarkan kebencian. Apalagi dengan menggunakan kekerasan terhadap orang yang berbeda dengan kita," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada peryaan tahun baru Imlek Nasional 2563, di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jumat (3/2) sore.
"Mari kita bangun kebersamaan dan sikap kekeluargaan. Terjalinnya persaudaraan dalam kemajemukan, terciptanya rasa solidaritas di tengah perbedaan, dan timbulnya rasa saling hormat menghormati akan menjauhkan kita dari pertentangan, permusuhan,dan konflik," tambahnya.
Kepala Negara juga berpesan kepada para tokoh dan pemimpin agama untuk membimbing, membina, dan menuntun umatnya melalui kesalehan individual dan kesalehan sosial. Para tokoh dan pemimpin agama, menurutnya berperan penting untuk menciptakan tri kerukunan hidup umat beragama. Yakni kerukunan internal umat beragama, antarumat beragama, dan antara umat beragama dengan pemerintah.
"Kokohnya tri kerukunan hidup umat beragama dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara," sambung SBY.
Presiden menambahkan, perbedaan akan selalu ada di dalam realitas kehidupan. Tapi ditegaskan bahwa perbedaan bukanlah kendala untuk dapat hidup rukun. "Perbedaan bukanlah untuk dipertentangkan," tandasnya.
Kepala Negara mengingatkan bahwa sejak berabad-abad silam Indonesia dapat hidup rukun dan bersatu. Bangsa ini mampu menunjukkan kepada dunia, bahwa di tengah keragaman persatuan dan harmoni tetap dapat dijaga. "Kita dapat hidup rukun dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi sumbangan amat berharga dalam membangun tatanan peradaban baru di dunia," katanya.
( Fauzan Jayadi / CN32 / JBSM )