
SEMARANG, suaramerdeka.com - Kalangan pengusaha menilai saat ini Kota Semarang menjadi tempat yang mudah untuk memulai bisnis. Proses pelayanan perizinan yang mulai mudah, menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.
"Kemudahan dalam pelayanan perizinan di Kota Semarang memang belum terlalu baik. Nilainya masih tujuh. Tapi perkembangan untuk menuju ke arah yang lebih baik sudah ada," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Semarang Heru Isnawan, kemarin.
Menurut Heru, kemudahan perizinan hanya salah satu indikator Semarang menjadi kota yang disenangi investor. Banyak indikator lain yang dinilai sangat menunjang iklim investasi, seperti upah tenaga kerja yang lebih rendah bila dibandingkan dengan Bandung atau Surabaya, dan kondisi keamanan yang relatif kondusif. "Gejolak di Semarang tidak seperti kota lain. Semarang relatif lebih aman. Meski daya beli masyarakatnya kurang menonjol, tapi itu tak jadi masalah bagi pengusaha. Sebab investasi tidak identik dengan menjual produk di satu tempat," ujarnya.
Wali Kota Soemarmo HS menyatakan, ada tiga hal yang ditekankan dalam proses perizinan yakni kejelasan sebuah kepastian hukum. ''Kalau ada izin kami langsung menindaklanjuti,'' kata dia. Selama proses pengajuan izin, tetap ditekankan pada satu pintu supaya tidak berbelit-belit. Terpenting, tidak ada pungutan di luar ketentuan yang berlaku. ''Saya langsung tandatangani izinnya. Di 2011 pun, sudah tidak ada lagi keluhan investor soal ribetnya proses perizinan. Kondusifitas Kota Semarang turut jadi penentu kemudahan investasi,'' kata dia.
Masuknya Kota Semarang dalam sepuluh besar kota yang paling mudah berbisnis berdasarkan penilaian International Finance Corporation (IFC), ungkapnya, sangat memberi dorongan untuk terus memperbaiki perizinan. ''Kebijakan mempermudah perizinan akan terus kami pertahankan dan ditingkatkan,'' tandas dia. Dari data Semarang Busines Forum atau Sembiz V 2011, tercatat ada 24 investasi dengan total nilai Rp 3,364 triliun. Jumlah itu ada kenaikan dari 2010 yang mencatat nilai Rp 2,165 triliun.
Dari jumlah tersebut, sembilan bidang merupakan investasi di sektor perhotelan. Seperti Star Prima West bakal mengembangkan hotel Best Western Hotel & Apartment di Jalan MT Haryono, investor Merdeka Graha Indo dengan investasi Palm Hill Real Estate atau sebuah kondominium di Jalan Papandayan, juga investor Mutiara Matahari Makmur Sentosa yang akan membangun apartemen di Kampung Petempen,serta Merdeka Sandi Surya yang akan membangun tower untuk perkantoran di Jalan Pandanaran.
Sedangkan investor yang sudah melakukan penandatanganan nota persetujuan atau LoI tercatat ada 11 usaha. Disebutkan wali kota, seperti Yayasan Bagas Waras Nuswantoro yang akan mengembangkan RS Srondol Hospital Centre. Ada juga investor Wamarion Graha Perkasa bakal mengembangkan Hotel Wamarion. Bahkan Grup Agung Podomoro melalui anak usahanya Tirto Podomoro akan mengembangkan instalasi air bersih di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas.
Pemkot Semarang pada 2012 ini akan mengoptimalkan faktor-faktor pendukung untuk menunjang iklim investasi. Seperti infrastruktur, saat ini pengembangan Bandara Ahmad Yani terus dilakukan bersama Pemprov Jateng dan Pusat. Pengembangan tempat-tempat wisata akan dioptimalkan guna mendukung investasi.
( Fani Ayudea / CN34 / JBSM )