
RUSUH: Pemain Al-Ahly meloloskan diri dari lapangan setelah suporter Al-Masry merangsek menuju lapangan setelah pertandingan antar kedua tim di Port Said berakhir, Rabu (1/2). (suaramerdeka.com/ AFP)
PORT SAID, suaramerdeka.com - Tentara Mesir ditempatkan di sebelah utara kota Port Said setelah bentrokan mematikan terjadi di sebuah pertandingan sepak bola dan menewaskan 74 orang.
"Tentara Mesir telah mengerahkan pasukannya di Port Said untuk mencegah bentrokan lebih lanjut antara penggemar [tim sepak bola] Al-Ahly dan Al-Masri," lapor televisi negara Rabu (1/2).
Empat puluh tujuh orang telah ditangkap sehubungan dengan "invasi lapangan" itu, kata Menteri Dalam Negeri Mohamed Ibrahim Mesir. Ia menambahkan, pihak militer memastikan akan mencari hingga tersangka terkait insiden itu tertangkap.
Hal sama dikatakan kepala dewan penguasa militer Mesir, Marsekal Hussein Tantawi Mohamed. Pada sebuah stasiun lokal, ia berjanji akan melacak mereka yang berada di balik kekerasan itu.
"Ini hal yang dapat terjadi di mana saja di dunia; tapi kami tidak akan membiarkan orang-orang di balik ini lolos," kata Tantawi. Dia menambahkan, korban akan menerima kompensasi setelah kasus mereka diperiksa.
Tidak diketahui pasti bagaimana insiden itu dimulai. Diduga, huru-hara terjadi setelah penggemar tim Al-Masry membanjiri lapangan setelah pertandingan melawan al-Ahly, salah satu tim kenamaan di Mesir, berakhir.
Seorang pejabat keamanan mengatakan, para pendukung al-Masry mengejar pemain Al-Ahly dan pendukung mereka hingga terpojok di lapangan dan di sekitar stadion. Mereka juga melempar batu dan botol ke arah tim dan suporter tamu. Akibatnya seribuan orang, termasuk polisi terluka dalam kejadian ini. Setidaknya dua pemain mengalami cedera ringan.
"Ini adalah bencana terbesar dalam sejarah sepak bola Mesir," kata Hesham Sheiha, wakil menteri kesehatan. Dia mengatakan sebagian besar disebabkan oleh cedera gegar otak dan luka yang mendalam.
"Ini bukan sepak bola ini adalah perang dan orang mati di depan kami.. Tidak ada gerakan dan tidak ada keamanan dan tidak ada ambulans," kata Al-Ahly, seorang pemain Abo Treika pada Al Jazeera.
Ikhwanul Muslimin, kekuatan politik terbesar di negara itu, menuduh para pendukung presiden terguling, Hosni Mubarak, lah yang menghasut kekerasan.
( Al Jazeera , Linda Putri / CN33 )