
SEMARANG, suaramerdeka.com - Para pengunjung Lawang Sewu mengeluhkan biaya yang terlalu mahal untuk dapat melihat arsitektur bekas kantor administrasi Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappijj (NIS) yang dibangun pada 1904 itu. Selain tiket masuk Rp 10.000 yang harus dibayar, pengunjung juga harus membayar jasa pemandu Rp 30.000.
"Bahkan untuk dapat melihat ruangan bawah tanah, kami harus membayar lagi Rp 20.000 dan menyewa sepatu boot Rp 20.000. Sebab untuk berjalan di ruang bawah tanah yang jalannya becek harus pakai boot," keluh Afi Putri (35) warga Kecamatan Gajahmungkur ketika ditemui di Lawang Sewu, Rabu (1/2).
Mau tidak mau, ibu dua anak yang mengantar saudaranya dari Jakarta untuk berkunjung ke tempat itu pun terpaksa harus mengeluarkan uang lebih. Dengan tarif yang dianggapnya mahal, Afi mengaku tidak dapat puas menikmati keseluruhan arsitektur bangunan kuno itu terutama kaca patri di ruang penerima buatan J L Schouten dari studio t’Prinsenhof di Delft.
"Saya tertarik dengan lukisan dinding kaca patri yang ada di lantai dua, tapi oleh pemandu tidak diperbolehkan, alasannya gedung sedang direnovasi. Padahal tidak ada aktivitas pekerja saat itu," imbuhnya kesal.
Hal senada juga disampaikan oleh Maharani (21) warga Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang datang bersama teman-temannya untuk berkunjung ke sejumlah obyek wisata di Kota Semarang. Saat mengetahui tarif yang harus dibayarkan, perempuan bertubuh gemuk itupun memilih menikmati keindahan Lawang Sewu dari luar pagar.
"Padahal tadi saya sempat ke Klenteng Sam Poo Kong, tarif masuknya tidak semahal di Lawang Sewu. Untuk masuk arena turis lokal Rp 3.000, mancanegara Rp 10.000. Tiket masuk klenteng sendiri hanya Rp 20.000 untuk turis lokal dan Rp 30.000 untuk asing. Di Masjid Agung Jawa Tengah dan kompleks Kota Lama malah gratis," ujar mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM itu.
Menurutnya, sangat disayangkan jika pengelola justru memberikan tarif yang mahal sementara para pengunjung tidak mendapatkan kepuasan setelah berkunjung ke benda cagar budaya (BCB) yang didesain oleh Guru Besar Technische Hogeschool Delft Prof Jakob F Klinkhamer, serta arsitek Belanda B J Quendag itu.
( Fani Ayudea / CN27 / JBSM )