
JEPARA, suaramerdeka.com – Kondisi tanggul di pantai Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Kota yang ambrol karena ombak besar membuat nelayan mengeluh, mengingat pembangunan yang baru selesai di akhir 2011 tetapi sudah rusak. Selain itu, dengan ambarolnya tanggul itu membuat air pasang semakin parah karena jumlah rumah warga yang terkena makin banyak.
Utadhie Ansyah, nelayan Ujungbatu, menjelaskan usia tanggul tak ada hitungan pekan. Hanya dalam jarak beberapa hari setelah selesai dibangun ambro karena diterjang ombak. Dengan kondisi itu, patut dipertanyakan kualitas bangunan tersebut. "Kami berharap agar ada upaya dari dinas terkait," tuturnya.
Dia lantas menjelaskan sudah ada petugas dari Dinas Kelautan dan Perikianan (Dislutkan) Jepara yang datang mengecek kerusakan. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah dengan menumpuk karung berisi pasir untuk penangkal sementara. "Rencananya akan diberi karung pasir untuk mengurangi dampak air pasang. Tapi tidak tahu kapan," jelas Utadhie.
Utadhie menyadari perbaikan tanggul tak mungkin dilakukan sekarang karena masih dalam kondisi baratan. Namun, Dia berharap upaya sementara harus dipercepat karena dampak tanggul ambrol membuat air pasang semakin parah memasuki rumah-rumah warga. "Kalau pas air pasang bisa tiap malam air masuk ke rumah-rumah warga. Tanpa tanggul, air laut yang masuk tambah banyak dan lama," tuturnya.
Terkait air pasanga, pemukiman yang paling parah terkena dampak ada 4 RT di Kelurahan Ujungbatu, yakni di RT 4 RW 3, RT 10, 15, 16 RW 4. Agus Mardiko (38), warga RT 4 RW 3, menjelaskan terjadinya air pasang biasanya terjadi sekitar pukul 02.30 dan baru surut sekitar pukul 04.00.
Terpisah, Kepala Dislutkan Jepara Achid Setiawan melalui Kepala UPT Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Uung Gunarso menjelaskan sudah mengukur talud yang ambrol dengan panjang 36 meter. Proyek itu merupakan dari Bantuan Provinsi Jawa Tengah. "Sudah dicek dan untuk langkah lanjutan akan koordinasi dulu dengan Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM," tuturnya.
( Akhmad Efendi / CN26 / JBSM )