
SEMARANG, suaramerdeka.com - Kalangan eksportir mebel di Jawa Tengah pesimis nilai ekspor di 2012 akan meningkat karena kondisi perekonomian di Eropa dan Amerika yang stagnan dan cenderung lebih buruk. Mereka khawatir kondisi krisis yang mempengaruhi daya beli masyarakat Eropa berdampak pada berkurangnya permintaan dan menurunnya perekonomian Jateng.
Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jateng Anggoro Ratmadiputro memprediksi tahun ini akan terjadi penurunan volume ekspor, namun untuk nilai ekspor masih tetap. Tahun lalu, nilai ekspor furnitur Jateng mampu menembus angka sekitar 500 juta dolar AS.
Menurutnya, pembeli furnitur Jateng tergolong fanatik. Furnitur Jateng dianggap memiliki spesifikasi tertentu dengan nilai tinggi, meski pasarnya sempit. Pasar ekspor mebel Jateng ada di Eropa barat yakni Prancis, Inggris, Belanda, Belgia, Spanyol, dan Amerika.
"Memang di furnitur belum ada penurunan nilai ekspor, tapi di kerajinan seperti lampu dan hiasan sudah mulai ada penurunan. Sebab furnitur masih jadi kebutuhan utama bila dibandingkan dengan kerajinan. Kita juga khawatir ada penurunan karena pasarnya sama," katanya.
Bila terjadi penurunan nilai ekspor, Anggoro berharap, tidak lebih dari 10 persen. Pengusaha masih dapat bertahan bila penurunan margin hanya 5-10 persen. Lebih dari 10 persen, diperkirakan akan banyak perusahaan mebel yang gulung tikar.
"Saat ini ada beberapa perusahaan yang kondisinya menurun, tapi ada juga yang tidak mengalami masalah apa-apa," ujarnya.
Guna mengantisipasi krisis, pengusaha berharap agar pasar domestik lebih terbuka lagi menerima produk lokal. Ini bisa dimuali oleh instansi pemerintah dengan menggunakan mebel lokal untuk perlengkapan kantor.
( Fani Ayudea / CN33 / JBSM )