
YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Sepanjang 2011 hingga awal tahun ini, sebanyak 273 ekor unggas di Kabupaten Sleman mati akibat terserang virus avian influenza (AI) atau flu burung. Angka kematian tertinggi ditemukan di Kecamatan Godean sejumlah 77 unggas. Disusul Kecamatan Gamping 61 ekor, Depok 40 ekor, dan Berbah 30 ekor.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Sleman, Riyadi Martoyo mengatakan, untuk antisipasi penyebaran penyakit AI, pihaknya telah menyiapkan 50.000 dosis obat, dan 600 liter desinfektan. "Obat dan desinfektan tersedia di 12 pusat kesehatan hewan. Masyarakat yang bisa butuh, bisa minta kepada petugas," jelasnya.
Selain stok obat, biosecurity juga akan diperketat. Realisasinya berupa pembatasan lalu lintas pekerja dan kendaraan yang keluar masuk peternakan. Disamping itu, para pekerja dan orang yang berada di sekitar lokasi kandang harus dijamin dalam kondisi sehat.
Riyadi mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan. Sebab, kondisi kelembaban udara yang tinggi seperti saat sekarang ini berpotensi memicu penyebaran virus AI. "Masyarakat jangan cemas, tapi juga tidak boleh lengah karena virus ini menular ke manusia," imbuhnya.
Kepala UPT Pelayanan Kesehatan Hewan, Nyoman Ayu Anggraeni, mengimbau jika ada kejadian unggas mati mendadak, masyarakat jangan membuang bangkainya di sembarang tempat. "Unggas sebaiknya dibakar, dan dikubur agar virus tidak menyebar di wilayah lain," ujarnya.
( Amelia Hapsari / CN31 / JBSM )