panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
31 Januari 2012 | 07:30 wib
65% Masyarakat Belum Nikmati Listrik
Yang perlu dilakukan adalah merubah paradigma kebijakan energi. Energi kita jangan dijual tapi untuk modal pembangunan. Strategi efisiensi energi, kita maksimumkan energi terbarukan
--- Anggota Dewan Energi Nasional, Herman Darnel Ibrahim


YOGYAKARTA, suaramerdeka.com -
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Herman Darnel Ibrahim mengatakan, kebijakan energi nasional belum sepenuhnya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan subsidi BBM sebesar Rp 260 triliun tahun 2011 lalu terdiri atas Rp 165 T untuk BBM dan Rp 96 T untuk listrik hanya dinikmati sebagian masyarakat.

Pasalnya, hanya 65 persen masyarakat yang baru menikmati pasokan aliran listrik yang tersambung di rumahnya. ''Energi belum sejahterahkan rakyat. Jadi, yang tidak dapat listrik, tidak dapat juga subsidinya,'' katanya dalam workshop internasional tentang ''Energi Nuklir dan Keamanan Reaktor'', yang berlangsung di Fakultas Teknik UGM.

Oleh karena itu, Dia mendesak agar pemerintah menyediakan sambungan listrik ke seluruh lapisan masyarakat. ''Hingga tahun 2020, semua penduduk dapat energi listrik,'' katanya.

Sehubungan dengan rencana pemerintah untuk menurunkan jumlah subsidi dengan melakukan konversi BBM ke gas, menurutnya, hal itu pekerjaan yang tidak gampang dan sulit terealisasi. Karena pemerintah harus mempersiapkan keberadaan pasokan gas, restribusi dan perubahan mesin kendaraan.

Sementara anjuran pemakaian penggunaan BBM pertamax, menurutnya juga bukan solusi yang tepat. ''Jika dipaksanakan maka akan ada permintaan pertamax dalam jumlah besar dan belum tentu semuanya mampu dipenuhi oleh Pertamina sehingga yang terjadi justru kekacauan,'' ujarnya.

Untuk menekan jumlah subsidi, dikatakan pemerintah perlu mengurangi penjualan BBM dan batubara serta gas ke luar negeri. Meski pendapatan ekspor mencapai 272 triliun namun semua pendapatan itu juga digunakan melakukan subsidi. ''Kita banyak ekspor dengan banyak produksi sementara pendapatannya untuk subsidi,'' tuturnya.

Dia menyebutkan, konsumsi BBM mencapai 1,2 juta barrel per hari. Tidak sepenuhnya bisa dipenuhi, sehingga perlu impor BBM sekitar 500 ribu barrel per hari untuk menutupi konsumsi BBM. ''Yang perlu dilakukan adalah merubah paradigma kebijakan energi. Energi kita jangan dijual tapi untuk modal pembangunan. Strategi efisiensi energi, kita maksimumkan energi terbarukan,'' katanya.

( Bambang Unjianto / CN27 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
27 Mei 2012 | 08:30 wib
Dibaca: 3
27 Mei 2012 | 07:50 wib
Dibaca: 13
27 Mei 2012 | 07:35 wib
Dibaca: 13
27 Mei 2012 | 07:25 wib
Dibaca: 13
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER