
RUANG RAWAT: Nasuha, bayi yang isi perutnya berada di luar dinding perut, Senin (30/1) kondisinya mulai membaik setelah dirawat di ruang PICU/NICU RS Islam Klaten. (suaramerdeka.com/ Achmad Hussain)
KLATEN, suaramerdeka.com - Setiap orang tua pasti berkeinginan buah hatinya lahir dengan kondisi sehat dan normal. Namun yang dialami pasangan Lisa Tri Utami (24) dan Andi Prasetyo (25) warga Dusun Jetis, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara sungguh di luar dugaan. Satu dari buah hatinya lahir dengan sebagian isi perutnya berada di luar dinding sehingga terlihat jelas.
Fenomena penonjolan usus atau isi perut lain melalui akar pusar yang hanya dilapisi oleh peritoneum (selaput perut) atau tidak dilapisi oleh kulit (omfalokel) dalam dunia medis sangat jarang dijumpai. Dalam ilmu kedokteran kandungan, dari 5.000-7.000 kelahiran bayi kemungkinan lahir dengan gejala omfalokel hanya satu bayi.
Jamaknya pun bayi lahir hanya satu. Namun yang dialami Nasuha, bayi mungil yang dilahirkan tanggal 26 Desember 2011 dan kini dirawat di RS Islam Klaten, sungguh di luar dugaan. Puteri pasangan Lisa Tri Utami dan Andi Prasetyo itu lahir kembar.
Tim bedah anak RS Islam, Dokter Guntur Surya Alam SP. B, SP BA yang menangani Nasuha mengatakan kasus omfalokel dengan posisi lahir kembar sangat langka. ''Apalagi justru bayi yang bobot dan panjangnya sangat normal malah dengan gejala omkalpfel,'' ungkapnya, Senin (30/1) saat paparan di RS Islam.
Dikatakannya, Nasuha lahir tidak sendirian melainkan dengan saudara kembarnya Nadif. Bayi Nasuha lahir dengan bobot normal 3, 8 kilo gram sedangkan Nadif hanya 2, 1 kilogram. Bayi munglil itu, awalnya dirawat di sebuah RS swasta di kota Jogjakarta.
Namun setelah didapati kelainan itu keluarga memutuskan membawanya ke RS Islam Klaten. Selama dirawat di ruang perawatan intensif RS Islam, tim dokter sangat berhati-hati. Sebab dengan tidak terbentuknya dinding perut sangat rawan dan berisiko.
Untungnya, meski tampak di luar perut masih ada selaput tipis yang membungkus organ dalam. Padahal diameter usus dan organ dalam yang keluar berdiameter 20 centi meter. Masuk tanggal 31 Desember, tim dokter menangani dengan sangat hati hati. Sebab risiko terbesar bayi dengan kelainan itu bisa infeksi, hypotermia (kedinginan) atau dehidrasi.
Tidak Operasi
Tim dokter pun tak berani melakukan operasi. Yang bisa dilakukan hanya dengan teknik tegak kering. Organ dalam yang keluar dan sifatnya lembut dilindungi agar tidak infeksi dan diberi cincin di sekitarnya sehingga hari demi hari organ dalam itu masuk secara alami.
Kini, bayi itu sudah sehat dan organ dalamnya sudah masuk. Penyebab utama kelainan itu bisa dipicu kurangnya Zinc saat hamil atau ada gangguan saat pembentukan dinding perut. Dokter Adip Hermawan SP.A menambahkan, perawatan selama menunggu proses tagak kering tidak mudah. Tim dokter dihadapkan pada risiko infeksi pencernaan.
''Selama perawatan bayi sering muntah karena kontraksi usus,'' katanya.
Namun kendala itu bisa diatasi dan saat ini bayi sudah membaik. Risiko setelah besar dan dinding perut menutup biasanya akan jadi hernia. Namun saat usia sudah menginjak 2-3 tahun bisa disembuhkan dengan operasi. Lisa Tri Utami, ibu sang bayi menceritakan selama masa mengandung tidak ada gejala aneh yang dialaminya.
Saat diperiksakan ke dokter kandungan, terdeteksi bayinya memang lahir kembar. ''Namun tidak ada deteksi akan mengalami kelainan organ di luar perut,'' jelasnya.
Kelainan itu baru diketahuinya saat puterinya lahir. Selama masa mengandung dia makan sesuai anjuran dokter dan tidak banyak beraktifitas. Semula keluarga sudah hampir menyerah tetapi akhirnya memutuskan dirawat ke RSI Klaten
sebab dekat dengan rumah. Kini setelah bayinya pulih, inginnya segera dibawa pulang sebab bayi yang satunya sudah dibawa pulang.