panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
29 Januari 2012 | 12:47 wib
Cegah Longsor, Kawasan Gebog Butuh Talud
image

PASANG TRUCUK: Sejumlah masyarakat dan dibantu aparat TNI dan Polsek Kecamatan Gebog, Kudus, membuat trucuk sebagai talud sementara di Dukuh Kambangan. (suaramerdeka.com / Ruli Aditio)

KUDUS, suaramerdeka.com - Upaya pembenahan sarana dan prasarana pendukung untuk akses mobilitas masyarakat di wilayah Kecamatan Gebog Kudus membutuhkan talud sebagai penguat tebing. Ini dilakukan karena sejumlah jalur akses masuk ke sejumlah desa masih berpotensi terjadi bencana tanah longsor.

Camat Gebog, Djati Solechah saat memantau kondisi geografis di wilayah Kecamatan Gebog, Kudus kemarin menjelaskan, masih ada beberapa hal yang menjadi perhatian khusus, yaitu perlu adanya pembuatan talud yang permanen di sejumlah titik yang masuk kategori rawan longsor. "Di antaranya di Desa Rahtawu, kemudian di sebagian kecil di Desa Menawan," katanya.

Sejumlah desa yang masih menjadi pantauan khusus terkait dengan potensi bencana alam tersebut memang seringkali terjadi longsoran, sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa.

"Bahkan beberapa tahun lalu nyaris saja di Desa Rahtawu, tepatnya di Dukuh Wetan Kali dan sekitarnya ratusan kepala keluarga terisolasi karena tebing longsor dan menutup jalan,namun kini sudah tidak lagi karena telah dibangun talud permanen," ungkapnya.

Mengenai bentuk antisipasi jika terjadi bencana tanah longsor Djati menjelaskan, tentunya masih dengan menggunakan cara-cara manual, yaitu dengan cara kerja bakti bersama membersihkan material. Disinggung kembali soal titik yang rawan bencana Djati mengatakan dari evaluasi di lapangan setidaknya ada 18 rawan longsor yang berada di Dukuh Kambangan.

Di sisi lain wilayah yang masih berpotensi bencana tanah longsor bisa dikategorikan sebagai zona tidak layak huni, namun karena alasan ekonomi masyarakat pihaknya tidak bisa berbuat banyak selain memberi imbauan.

"Hingga kini masih mengimbau pada masyarakat untuk senantiasa berhati -hati dan waspada terhadap gejala alam yang berdampak terjadinya bencana tanah longsor, di tengah puncak musim penghujan," tandasnya.

( Ruli Aditio / CN26 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
26 Mei 2012 | 23:55 wib
Dibaca: 259
26 Mei 2012 | 23:42 wib
Dibaca: 221
26 Mei 2012 | 23:28 wib
Dibaca: 241
26 Mei 2012 | 23:14 wib
Dibaca: 213
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER