
NIKOSIA, suaramerdeka.com - Setidaknya 34 orang tewas setelah kekerasan kembali pecah di Suriah Sabtu (28/1). Lembaga aktivis kemanusiaan melaporkan, bentrokan sengit terjadi antara tentara dan tentara anti pemerintah, setelah otoritas setempat memperingatkan negeri itu akan "dibersihkan" dari penjahat.
Bentrok terjadi di pusat kota yang terus bergolak, yakni Homs, di provinsi Rastan, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, yang melaporkan konfrontasi serupa di Al-Ghuta, dekat ibukota. Sebanyak dua puluh tiga orang di antara korban tewas adalah personil militer atau keamanan. "Sejumlah pos-pos pemeriksaan di dalam kota sepi dan lengang," kata seorang aktivis di Rastan.
"Warga berusaha membantu perjuangan mereka yang keluar dari Rastan dan mencapai posisi [pemberontak] Free Syrian Army," tambah aktivis, yang berbicara tentang kondisi anonimitas.
Sementara itu, kantor berita Suriah, SANA, melaporkan telah terjadi penyergapan sebuah bus dekat kubu pemberontak Douma, utara Damaskus. Serangan yang diklaim pemerintah senagai serangan "kelompok teroris" ini menewaskan tujuh tentara Suriah.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Suriah Mohammed al-Shaar mengatakan pemerintah bertekad untuk "membersihkan" penjahat dan untuk memulihkan ketertiban negaranya. "Kelompok teroris melakukan tindakan terorisme dan membunuh orang yang tidak bersalah, mereka merampok harta mereka dan merusak keamanan mereka," katanya, dikutip oleh SANA.
Terus bertambahnya korban jiwa akibat konflik bernuansa politis di Suriah memaksa Liga Arab menagguhkan misi pengamat HAM-nya di Suriah. Pengumuman itu dikeluarkan setelah Syrian National Council mengatakan pemimpinnya akan menuju New York untuk mengajukan banding ke Dewan Keamanan PBB untuk meminta perlindungan dari rezim Presiden Bashar Assad.
"Keputusan untuk menangguhkan misi Liga Arab di Suriah telah diambil karena masih adanya kekerasan, dan pengumuman resmi akan dibuat nanti," kata seorang pejabat Liga Arab di Kairo pada AFP, Sabtu (28/1).
Telah sebelas bulan lamanya, rakyat Suriah mengusahan lengsernya Presiden Bashar al-Assad. Namun, puluhan ribu nyawa, dilaporkan oleh organisasi pengamat HAM, melayang karenanya.
( AFP , Linda Putri / CN33 )