
ADDIS ABABA, suaramerdeka.com - Tentara Ethiopia akan tetap berada di Somalia sampai pasukan Uni Afrika menggantikan mereka untuk menghindari kekosongan pengamanan yang akan membangkitkan gerilyawan garis keras di negara Tanduk Afrika tersebut. Demikian dikemukakan Perdana Menteri Meles Zenawi, Jumat (27/1).
Addis Ababa mengirim pasukan ke negara tetangganya, Somalia, pada November silam sebagai bagian dari operasi luas untuk menumpas kelompok gerilya Al-Shabaab. Terutama, militan yang menguasai sejumlah besar wilayah Somalia tengah dan selatan.
Pada malam tahun baru, pasukan Ethiopia merebut kota perbatasan Somalia, Baladwayne, dari gerilyawan Al-Shabaab, yang diperangi pasukan Kenya sejak Oktober lalu. Sejumlah pejabat Ethiopia, yang tidak ingin penyerbuan pasukan itu mengulangi nasib buruk mereka dalam perang 2006-2009 di Somalia, menegaskan bahwa pasukan Ethiopia hanya akan ditempatkan untuk kurun waktu singkat.
"Kami berharap pasukan AMISOM (pasukan Uni Afrika di Somalia) mengisi kekosongan sebelum kami menarik diri dan karenanya pada tahapan ini kami tidak terburu-buru menarik diri sebelum pasukan AMISOM masuk," kata Meles kepada wartawan setelah pertemuan para pemimpin Afrika timur di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa.
Belum jelas kapan pasukan AMISOM, yang hingga kini terpusat di ibu kota Somalia, Mogadishu, tiba di Somalia tengah. Pasukan Ethiopia menyerbu Somalia pada 2006 dan meninggalkan negara itu pada awal 2009 setelah menghalau kelompok garis keras Persatuan Pengadilan Islam dari Mogadishu.
Sebagian besar penduduk Somalia pada saat itu menentang intervensi tersebut dan para analis mengatakan, hal itu bisa mendorong masyarakat bergabung dengan Al-Shabaab. Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.
Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010. Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas. Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibu kota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang. Pengeboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap Kedutaan Besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaidah.
( AP , Rifki / CN34 )